I'm Back!!!!

Hey, Fellas! Lama tak berjumpa. Udah lama banget gue nggak nulis di blog ini. Dua bulan ini gue sibuk banget, dan sisanya gue males, hahahaha, sorry.  Buat kalian para pembaca setia blog gue, gue minta maaf sebesar-besarnya karena telah mengecewakan kalian dan membuat kalian bertanya-tanya, "Kapan sih, Zim Kazama nulis lagi?"
Well, I'm back, Guys! Gue udah balik!

Ada banyak banget hal yang menyebabkan gue susah menulis di blog ini selama dua bulan terakhir. Di sekolah banyak sekali acara besar yang mengharuskan gue bolak-balik rumah sekolah bahkan di waktu istirahat. Well, meskipun begitu gue sangat menikmati masa-masa ini. Karena akan ada masanya gue cuma duduk memandangi album kenangan, lalu dalam hati gue bergumam, "Gue pernah ngerasain indahnya masa sekolah."

Selain acara sekolah, dua bulan terakhir ini gue juga mengikuti beberapa kompetisi yang amat menguras intuisi, seperti Olimpiade Bahasa Indonesia, gue ikut dua kompetisi, lalu ada Olimpiade Akuntansi, ini bukan gue banget, dan ceritanya panjang, lalu ada Olimpiade Pelajar NU, ini adalah kelanjutan dari Porseni PAC IPNU IPPNU Buaran kemarin, bedanya kali ini gue mewakili kecamatan Buaran untuk bertanding di tingkat kabupaten Pekalongan. Baddas!
Alasan gue mengikuti Olimpiade Bahasa Indonesia sudah tentu karena gue suka pelajaran Bahasa Indonesia, dan gue tertarik untuk mencoba sejauh mana kemampuan berbahasa Indonesia gue. Tetapi, Olimpiade Akuntansi, alasan gue mengikutinya sangat tidak bisa diterima. Jadi, begini ceritanya...

Dikarenakan gue sering bertanya dan menyanggah pernyataan teman-teman gue saat presentasi pelajaran Ekonomi, Ustaz Rozaq mendaftarkan gue ke dalam Olimpiade Ekonomi, tentu saja beliau bertanya terlebih dahulu kepada gue. Apakah gue mau atau tidak. Ya, dan gue menjawab "mau", karena beliau bilang Olimpiade Ekonomi, dan gue tidak sendirian dalam Olimpiade ini, gue bersama Syahdan, salah satu siswa yang paling berpotensi di pelajaran Ekonomi. Dia juga jago menghitung.

Belakangan gue dibuat terkejut karena brosur yang diperlihatkan Syahdan adalah Olimpiade Akuntansi. Hah? Akuntansi? Gue bahkan nggak ngerti apa itu akuntansi. Ustaz Rozaq meyakinkan gue. Lalu, les bersama ayah Ustaz Rozaq, Ustaz Samsudin, dimulai.
Boom! Otak nalar gue sangat tidak bisa diajak memikirkan angka-angka ini. Sedikit, gue paham beberapa persamaan. Seperti debit di sebelah kiri dan kredit di sebelah kanan. Debit itu artinya uang masuk, kredit itu uang keluar. Cukup. Gue cuma sejauh itu. Berbanding terbalik dengan Syahdan yang bahkan mengerti dan hafal semua rumus yang diberikan Ustaz Samsudin.

Hari perlombaan tiba, Sabtu, 26 Februari 2022. Hari itu sekolah ada acara besar, gue jadi panitia, namun gue terpaksa meninggalkan acara tersebut. Juga hari sebelumnya, Jumat, 25 Februari, yang harusnya gue pakai untuk menata tempat bersama panitia lain, gue nggak bisa hadir karena ada pemilihan ketua IPNU IPPNU Kertijayan yang baru. Dan, yap, perlombaan dimulai. 45 soal hampir semua Syahdan sendiri yang menjawab, gue hanya menjawab satu pertanyaan, yaitu "Siapakah bapak akuntansi?" Gue menjawab "Luca Pacioli". Sudah. Dua hari kemudian, hasil perlombaan diumumkan. Syahdan dan gue masuk ke semifinal karena berada di peringkat 5 di antara 29 peserta. BAJINGAN. WHAT THE HELL????

Dalam kurun waktu satu bulan itu juga gue menggunakan waktu gue untuk berlatih geguritan. Awalnya gue berlatih sendiri, kemudian berlatih dengan ketua PAC IPPNU Buaran, Mbak Reni, yang dulu juga seorang Jawara Geguritan tingkat Kabupaten. Kemudian gue berlatih dengan pelatih gue dua tahun lalu, pelatih yang sama ketika gue kalah di kabupaten. Mungkin karena dulu mental gue masih ciki. Hahahaa.
Ada satu hal yang membuat gue teramat bersemangat dalam event kali ini, dan juga berlatih bersama Mbak Reni. Apa itu? Ya, berkat si Yasmin yang mengikuti cabang lomba tari. Kalau saja tak ada Yasmin, gue nggak akan mau berangkat berlatih, jujur saja gue sedang banyak pikiran dan banyak tanggungan, namun Yasmin selalu meyakinkan gue bahwa gue bisa melewati semua ini. Akhirnya, dengan didorong kemauan pribadi, kemauan akan juara, dorongan penyemangat darinya, pengorbanan dari ketua PAC IPNU, Mas Labib, lalu ada partisipasi pelatihan dari Mas Mahrus, ketua IPNU-ku yang baru saja menyelesaikan masa khidmatnya, aku pun berlatih dengan sangat bersemangat.

Hari perlombaan tiba. Setelah salat jumat, Bang Khamid menjemputku untuk berangkat ke lokasi lomba. Sedang yang lain sudah di lokasi sejak sebelum zuhur. Begitu sampai di lokasi, aku terkejut melihat penampilan Yasmin yang sangat berbeda dari biasanya. Uwow. Mangklingi. Hahahaa.

Di sinilah gue, bersama manusia-manusia buaya dari Buaran menuju Olimpiade Pelajar NU Kabupaten. Ndan Juna, yang juga sempat berpartisipasi dalam latihan gue, memberi gue sedikit wejangan. Gue diberi sebuah resep agar juara, gue mengikutinya. Dan, yap, kami semua menuju venue perlombaan. Gue masuk ke kelad paling pojok, venue geguritan, sedangkan venue tari, jauh dari kelas yang gue tuju. Itu berarti gue nggak akan bisa menonton perlombaan tari. Hmmm.

Nomor peserta diundi. Gue mendapat nomor urut 11 dari 14 peserta. Ah, rasanya gue mau tiduran aja di venue lomba ini!
Dua juri memasuki venue lomba, mereka adalah Pak Oscar dan yang satunya adalah partnernya, gue lupa namanya, tapi Pak Oscar dan orang-orang seni memanggil beliau dengan sebutan "Ayah". Perawakannya tinggi dengan rambut panjang yang diikat, gigi depannya ompong, tanda bahaa beliau sudah sepuh, dan suaranya hampir tidak bisa didengar. Kata Pak Oscar, sejak kecil Ayah memang sudah sering dilatih untuk berseni-teater. Sejak kecil beliau sudah sering berteriak-teriak memerankan perannya. Sungguh suatu dedikasi yang tinggi terhadap seni. Pak Oscar sendiri berbadan agak kekar, berkacamata, dan gaya bicaranya sangat enak untuk disimak, setiap kalimat yang ia ucapkan selalu berima. Sungguh indahnya dunia sastra.

Satu persatu peserta maju. Total ada dua peserta yang amat membuatku merinding. Ekspresi dan penghayatan mereka terhadap bacaan geguritan sangat expert. Mereka benar-benar masuk ke dalam karya penulis Budhi Setyawan dan Ki Andanawarih tersebut. Hingga pada akhirnya, nomor 11 dipanggil maju. Gue menarik napas, lalu mengucap basmallah. Terlihat dari jendela Bang Khamid memberikan gue suntikan semangat, yang gue tafsirkan melenceng, yaitu, "Awas lo kalo gak menang, lo pulangnya jalan kaki!"

Gue meyakinkan diri, dan gue mengingat-ingat kembali apa yang telah disampaikan pelatih, Mas Mahrus, Mbak Reni, Mas Labib, Bang Khamid, suntikan semangat dari Yasmin dan semua pendamping dari Buaran. Serta tak lupa di rumah ada kedua orang tua gue yang selalu mendoakan gue, untung gue tadi sempat bersalaman kepada mereka. Karena biasanya habis zuhur, Bokap tidur dan Nyokap ada tahlilan di Musala.

Gue maju ke depan kelas, menundukkan badan gue di depan juri, kemudian memulai kalimat pertama.

Ada hal yang amat berbeda ketimbang kontestan lain saat aku maju ke depan, ya, semua yang menonton dari pintu dan jendela kelas seolah disuruh diam begitu saja, padahal ketika kontestan sebelum-sebelumnya maju, tidak semuanya diam, namun saat gue maju suasana sudah berbeda.

Mereka semua diam memerhatikan gue yang terus berteriak-teriak menyampaikan isi gurit. Dan ketika kalimat puncak gurit kedua, gue menaikkan nada bicara, mereka semua seolah terbelalak. Satu kalimat terakhir. Satu ucapan terima kasih, mereka semua bertepuk tangan. Rasa dagdigdurser dalam hati pun kini hilang.
Usai berlomba, gue izin pergi ke Musala untuk salat asar. Gue salat asar bersama Zidan, teman gue dari desa Sapugarut yang juga ikut meramaikan event ini sebagai satu dari banyaknya Buaya Buaran.

Salat Asar selesai, gue kembali ke tempat para Buaya ini beristirahat, tiba-tiba gue disuruh ke halaman oleh Bang Khamid, di sana beberapa orang dari berbagai kontingen tengah berbaris.
"Ikut baris sana, sebentar lagi pengumuman juara!" perintahnya yang langsung gue iyakan dengan berlari ke arah barisan.
Seperti umumnya sebuah upacara, akan selalu ada menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan karena ini event IPNU-IPPNU, maka selalu ada pula mars IPNU-IPPNU. Para peserta dari berbagai kontingen berbaris rapi dan menyanyikan lagu dengan serempak. Lalu, inilah yang ditunggu, pengumuman juara. Karena ini kejuaraan bertipe Olimpiade, pemenang langsung diumumkan, berbeda dengan konsep Porseni dua tahun lalu.

Lomba pertama yang dibacakan MC adalah lomba tari, gue seketika deg-degan, apakah Yasmin CS menang? Hmmm, kita tunggu.
Juara 3, 2, 1 semua sudah diumumkan, para pemenang berteriak kegirangan, bahagia. Namun, tak ada nama Buaran disebut. It's okay, Yasmin, maybe next time.

Terlihat dari tempat gue berdiri, Yasmin CS kecewa, tapi inilah yang disebut dengan perlombaan, ada yang menang dan ada yang kalah. Nampak juga wajah-wajah tegang para pendamping.

Gue yang merasa kebelet pipis langsung meninggalkan barisan tanpa izin, Bang Khamid menyetop gue, "Mau ke mana? Belum diumumin loh punya lo!"
"Gue kebelet, Bang! Mau pipis dulu!"

Wc pria sedang digunakan, gue pun menunggu sejenak di depan sementara para pemenang lomba tari sedang dikalungi medali. Gue sudah tak tahan, akhirnya dengan terpaksa gue masuk wc wanita yang kosong. Dari sini gue tahu sesuatu, Kadang-kadang melanggar aturan itu perlu, kalau mendesak, wkwk.

Baru saja gue masuk, lomba geguritan disebut, sial.
"Juara tiga, kontingen *****," kata MC. Badan gue gemetar, satu sisi karena gue yang sudah nggak kuat menahan pipis, satu sisi karena gue takut harus pulang jalan kaki. Ketika gue menurunkan ritsleting, kemudian celana gue turunkan, juara kedua disebutkan.
"BUARAN!"
Gue terkejut sambil pipis. Arahnya jadi tak beraturan. Samar-samar gue mendengar para pendamping yang bersorak gembira dari depan wc. Tak lama kemudian Bang Khamid menghampiri wc.
"WOEEEEE, ZIM, LO JUARA DUAAAA!" teriak Bang Khamid di depan wc pria
"IYA GUA TAHU, TAPI INI GUE BARU MLOROTIN CELANA!" sahut gue dari wc wanita.
"LO KOK MASUK WC CEWEK SIH?"
"WC COWOK LAGI ADA ORANGNYA, GUE UDAH GA KUAT!"
"UDAH CEPET KELUAR!!!!!"

Gue menaikkan kembali celana gue. Mengaitkan tali sepatu, lalu berjalan keluar dari wc. Semua orang seperti sedang melihat gue, tentunya dengan pandangan absurd, dalam hati mereka mungkin bertanya-tanya, "Orang kayak dia juara?"

"Cepet lari, nyet!" kata Bang Khamid.
Gue langsung berlari menuju tempat para jawara sedang dikalungkan medali. And, yeah, gue nggak jadi pulang jalan kaki. Usai mendapat medali gue langsung menghampiri para pendamping "Buaya Buaran". Dengan satu tarikan napas, gue berteriak, " BANG KHAMID PULANG TELANJANG!"
Semuanya menirukan gue. Bang Khamid tertawa terbahak-bahak.
"Kampret, lo kok juara sih? Kan nggak jadi pulang jalan kaki!"
"Sesuai perjanjian, telanjang!"
"Nggakk! Perjanjiannya udah ganti, gue pulang sikap lilin."
"Oke deh sikap lilin."

Beberapa lomba lainnya di hari tersebut diumumkan. Buaran kembali mendapat dua juara, yaitu MTQ Putra dan Putri. Kebanggan dan kebahagiaan tersendiri untuk gue bisa bersama mereka hari itu.

Kami semua berfoto bersama. Sebuah ungkapan kebahagiaan, namun karena covid yang kembali ganas, ada aturan tidak boleh memposting foto di story media sosial, foto pun cuma sebatas tersimpan di kamera Tsabata yang gue pinjam untuk dibawa untuk meramaikan event ini.

Ya, di sinilah gue. Pulang dari kemenangan ini dengan rasa syukur dan bangga. Dan gue mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya buat para pendamping dan pelatih, terima kasih juga buat para pembaca yang sabar menanti gue. Cieee. Juga buat nyokap bokap, ya walaupun gue yakin mereka nggak akan baca blog gue ini, big thanks untuk kalian!
And last, buat doi, lopyu lah ekekekekkekkkkk.

Jangan ke mana-mana karena setelah ini masih ada cerita perjalanan pulang gue bersama bang Khamid yang absurd, juga kelanjutan gue di olimpiade Akuntansi. So, stay tune!

Komentar

Postingan Populer