Langsung ke konten utama

Balada Jatuh Cinta Diam-diam

    Tiga hari yang lalu, teman cewek gue yang bernama Yasmin, yang hobi ngatain gue dengan sebutan "buaya", mengupload sebuah chat bernada pengakuan jatuh cinta. Atau yang lebih biasa disebut dengan kata confess. Gue mengomentari unggahan tersebut dengan balasan, 'Semangat.'
    Dia tidak menanggapi banyak, dia hanya menjawab, 'Anj'. Ya, untuk seukuran cewek, dia memang sarkastik parah.
    Selang beberapa saat kemudian, gue membuka instagram karena ada notifikasi seseorang menyebut gue dalam ceritanya. Ternyata bukan akun pribadi gue yang disebut, melainkan akun organisasi. Ya, gini-gini gue ketua organisasi di sekolah. Gue memutuskan untuk logout dari akun organisasi, dan masuk ke akun pribadi. Ada sebuah permintaan pesan.

    Pesan ini mirip sekali dengan yang diunggah Yasmin ke story whatsappnya. Seketika gue plonga-plongo. Dia ternyata menyimpan perasaan cinta ke gue selama tiga tahun, tiga tahun bukan waktu yang sebentar, loh. Gue buka pesan tersebut, lalu gue balas, 'Gue kayaknya tadi lihat ini di story whatsapp, tapi punya siapa ya?.'
    Disertai dengan emoji ketawa ngakak sampai jungkir balik "🤣".
Dia malu. Dia bilang dia pengin ngeblokir akun gue karena gue sudah melihat pesan tersebut. 

    Beginilah risiko jatuh cinta diam-diam: kita bakalan ngelanjutin hidup dalam keheningan. Meskipun banyak hal-hal menyenangkan hadir, kita tetap merasakan keheningan tersebut. Hari itu gue belajar, bahwa seseorang yang sehari-harinya ngatain kita dengan sesuatu yang jelek, bisa jadi bukan karena dia benci dengan kita. Bisa jadi dia hanya ingin selalu ada waktu untuk mengobrol denganmu, bisa jadi.

    Yasmin dengan gue sampai sekarang masih berteman. Dia nggak berharap banyak dari gue, dia hanya ingin gue mengerti perasaannya saja. Gue juga demikian. Gue nggak terlalu berharap banyak dan lebih memilih untuk fokus terhadap sekolah dan organisasi gue. Kadang-kadang memang demikian, kita tidak butuh orang untuk menanggapi bagaimana perasaan kita. Kita hanya butuh dia mengerti perasaan kita. Sejauh ini, Yasmin kalo ketemu gue jadi awkward. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memotret Kohesi Sosial Kliwonan Wonoyoso dari Sudut Pandang Individualisme

             Pagi hari. Waktu paling umum bagi sebagian besar masyarakat kelas pekerja untuk berangkat bekerja. Pun juga waktu paling umum untuk berangkat sekolah atau kuliah. Akan tetapi pengalaman berangkat bekerja atau sekolah & kuliah ini akan terasa berbeda jika harus melewati rute Jalan Raya  Kertijayan – Jalan Raya Sapugarut di hari Jumat Kliwon. Ada pemandangan yang berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya, yakni kerumunan pedagang jajan, pakaian, dan lain-lainnya berjejer di pinggir jalan sepanjang Jalan Raya Kertijayan hingga Jalan Raya Sapugarut.             “Kliwonan” atau “Pasar Kliwon” begitu warga setempat menyebutnya. Merupakan semacam tradisi spiritual yang sudah dilestarikan warga Desa Wonoyoso dan sekitarnya sejak lama sekali. Pusat tradisi ini sebenarnya berada pada Masjid Jami’ Wonoyoso yang konon katanya memiliki sumur keramat—jika mandi atau mi...

Satu Gagang Sapu

       Sabtu, 11 April 2026. Saya bangun tidur dengan perasaan lega karena baru saja menuntaskan satu tanggung jawab. Ketika mata melek, tak ada perasaan berat seperti beberapa hari sebelumnya. Akan tetapi perasaan tersebut ternyata tidak bertahan lama--langsung terusik oleh postingan status whatsapp salah satu teman di kampus yang baru saja dilamar oleh kekasihnya.    Bukan, bukan berarti saya cemburu karena teman saya dilamar. Pun kalau bisa dikata cemburu, konteks cemburunya bukan cemburu secara romantis, saya lebih memilih cemburu secara finansial. Sebab, secara praktis, mereka yang telah berani menapaki jalan menuju pernikahan artinya sudah bisa dikatakan mapan (walaupun tentu tidak sepenuhnya) baik secara finansial maupun mental dan aspek lainnya.      Saya mbatin sejenak, "Memang ya, bangun tidur itu harusnya langsung solat subuh habis itu olahraga atau baca buku, bukan malah buka medsos." Baru satu postingan saja sudah bikin saya mbat...

Alienasi dan Diskriminasi terhadap Mahasiswa Internasional

              Minggu sore, 12 Juli 2026. Saya baru saja pulang dari Stadion Hoegeng Pekalongan bersama Haroon setelah berlatih passing sepakbola. Haroon adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa internasional di UIN Gusdur yang berteman dengan saya. Pertama kali saya bertemu Haroon 28 Januari 2026, waktu itu Humas UIN Gusdur membutuhkan talent untuk video promosi kampus tentang keberadaan mahasiswa internasional di UIN Gusdur. Intinya video tersebut bermaksud memberitahu khalayak bahwa di kampus kami ada mahasiswa internasional yang berkuliah di dalamnya. Kebetulan sekali pada bulan Oktober 2025 saya sempat menjadi talent untuk video profil kampus, waktu itu Bu Afina Fahru yang menggandeng saya ke dalam projek tersebut, sebab beliau tahu saya menjadi aktor utama dalam film “Evakuasi” yang merupakan projek UAS dalam mata kuliah Sinematografi & Dramaturgi yang diampu beliau. Jadi saya ditarik untuk projek Humas ini ka...