Langsung ke konten utama

Diary Mahasiswa Kupu-kupu

        Mari sejenak melepaskan diri dari hiruk pikuk kisah percintaan yang tak ada ujungnya. Gue juga mau bercerita hal-hal selain percintaan dong biar nggak dikira bucin akut.

     Well, saat ini gue resmi menyandang status sebagai mahasiswa kupu-kupu (entah ini hanya sementara atau selamanya), pasalnya gue gagal lolos seleksi UKM Film, kaget! Menurut gue sendiri faktor utama yang memengaruhi ketidaklolosan gue adalah kehadiran gue, gue hanya hadir dua kali dari empat kali pertemuan yang diselenggarakan mereka. Pertemuan pertama dan kedua yaitu screening gue hadir karena memang gue ada waktu. Sedangkan pertemuan ketiga dan keempat, beh… Pertemuan ketiga gue ga enak badan, sedangkan pertemuan keempat gue ikut mendampingi tim Futsal IPNU Kertijayan bertanding di PORSENI 2023. Sialnya, mereka nggak memaklumi gue. Ah, ya udah.

      Rutinitas gue sekarang sebatas masuk kelas ikut mata kuliah - masuk perpus lalu tidur saat membaca buku (ini sudah berulangkali terjadi) - ngerjain tugas – pulang. Begitu terus berputar-putar. Kalau mood sedang ada di puncaknya, tugas bakal benar-benar selesai hari itu juga. Sebaliknya, yang terjadi seringnya begini:

    “Eh, ayo ke perpus, baca buku, abis itu ngelarin makalah,” ajak gue.
    “Ayo.” Teman-teman satu kelompok, apa pun kelompoknya respon mereka selalu ayo. Tapi, guenya-lah yang pekok.
    Teman-teman membaca buku, gue bagian mengetik. Ketika sedang mengetik selalu saja timbul rasa jenuh, lalu gue buka youtube, search Hindia, play! Berdendang….
Boom. Tugas nggak kegarap. Begitu terus lingkaran setan ini berulang-ulang. 
Kalau nggak gini, paling gue ketiduran di perpustakaan. Yang paling gue ingat seperti ini ceritanya:

    “Makul udah kelar nih, lanjut lagi abis zuhur, perpus aja yok?” gue mengajak Zali.
    “Yok! Gue juga mau pinjem buku lagi,” jawabnya. Zali memang orang yang cerdas dan hobi membaca buku. Wawasannya luas, seluas Pulau Jawa, sedalam Palung Mariana. Beda dengan gue, seluas kolor, sedalam sumur timun. Miris.
    Melangkahlah kami ke perpustakaan. Kami memasukkan kode presensi, kemudian menuju lantai kedua untuk mencari buku yang diinginkan. Gue menuju ke rak tasawuf, Zali juga ke sini. Ternyata kami sama-sama sedang mencari referensi untuk mata kuliah Ilmu Tasawuf. Gue mengambil buku berjudul “Akhlak Tasawuf” dan “Tasawuf dan Tarekat”, yang entah siapa penulisnya, gue nggak memerhatikan. Ya, beginilah orang kurang cerdas Ketika membaca buku (tentu saja terpaksa). Sedang Zali entah mengambil buku apa (buku gue sendiri aja gue nggak ngerti, apalagi buku orang). 

    Huruf demi huruf, kalimat demi kalimat, halaman demi halaman, bab demi bab berhasil Zali taklukkan. Berbeda dengan gue yang hanya melakukan timeskip langsung ke pembahasan yang sedang gue cari. Gue baca sebentar… Ah, ternyata gue paham. Lalu, ketika memasuki bab selanjutnya gue mulai menguap. Hooooooooaaaammmmm! Buku gue tutup, kemudian gue tumpuk. Handphone gue sisihkan. Tangan gue tekuk. Kepala gue rebahkan. Saatnya berpetualang di dunia mimpi!
    “Loh, gue di mana?” gue kebingungan menatap sekitar.
    “Lo di perpus, ketiduran tadi,” jawab Zali.
    “Mimpi apa gue jadi anak rajin?”
    “Lo udah bangun bego!”

    Yah… begitulah keseharian gue sebagai mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang), kuper (kuliah perpus-kuliah perpus), dan sebutan “ku ku” lainnya. Paling tidak gue masih bisa mengatur waktu gue untuk kuliah, kerja, dan juga istirahat. Setidaknya sampai nanti gue mencoba bergabung dengan organisasi atau UKM lagi. Doa gue semoga kali ini tidak ada penolakan. Gue harus lolos!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memotret Kohesi Sosial Kliwonan Wonoyoso dari Sudut Pandang Individualisme

             Pagi hari. Waktu paling umum bagi sebagian besar masyarakat kelas pekerja untuk berangkat bekerja. Pun juga waktu paling umum untuk berangkat sekolah atau kuliah. Akan tetapi pengalaman berangkat bekerja atau sekolah & kuliah ini akan terasa berbeda jika harus melewati rute Jalan Raya  Kertijayan – Jalan Raya Sapugarut di hari Jumat Kliwon. Ada pemandangan yang berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya, yakni kerumunan pedagang jajan, pakaian, dan lain-lainnya berjejer di pinggir jalan sepanjang Jalan Raya Kertijayan hingga Jalan Raya Sapugarut.             “Kliwonan” atau “Pasar Kliwon” begitu warga setempat menyebutnya. Merupakan semacam tradisi spiritual yang sudah dilestarikan warga Desa Wonoyoso dan sekitarnya sejak lama sekali. Pusat tradisi ini sebenarnya berada pada Masjid Jami’ Wonoyoso yang konon katanya memiliki sumur keramat—jika mandi atau mi...

Satu Gagang Sapu

       Sabtu, 11 April 2026. Saya bangun tidur dengan perasaan lega karena baru saja menuntaskan satu tanggung jawab. Ketika mata melek, tak ada perasaan berat seperti beberapa hari sebelumnya. Akan tetapi perasaan tersebut ternyata tidak bertahan lama--langsung terusik oleh postingan status whatsapp salah satu teman di kampus yang baru saja dilamar oleh kekasihnya.    Bukan, bukan berarti saya cemburu karena teman saya dilamar. Pun kalau bisa dikata cemburu, konteks cemburunya bukan cemburu secara romantis, saya lebih memilih cemburu secara finansial. Sebab, secara praktis, mereka yang telah berani menapaki jalan menuju pernikahan artinya sudah bisa dikatakan mapan (walaupun tentu tidak sepenuhnya) baik secara finansial maupun mental dan aspek lainnya.      Saya mbatin sejenak, "Memang ya, bangun tidur itu harusnya langsung solat subuh habis itu olahraga atau baca buku, bukan malah buka medsos." Baru satu postingan saja sudah bikin saya mbat...

Alienasi dan Diskriminasi terhadap Mahasiswa Internasional

              Minggu sore, 12 Juli 2026. Saya baru saja pulang dari Stadion Hoegeng Pekalongan bersama Haroon setelah berlatih passing sepakbola. Haroon adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa internasional di UIN Gusdur yang berteman dengan saya. Pertama kali saya bertemu Haroon 28 Januari 2026, waktu itu Humas UIN Gusdur membutuhkan talent untuk video promosi kampus tentang keberadaan mahasiswa internasional di UIN Gusdur. Intinya video tersebut bermaksud memberitahu khalayak bahwa di kampus kami ada mahasiswa internasional yang berkuliah di dalamnya. Kebetulan sekali pada bulan Oktober 2025 saya sempat menjadi talent untuk video profil kampus, waktu itu Bu Afina Fahru yang menggandeng saya ke dalam projek tersebut, sebab beliau tahu saya menjadi aktor utama dalam film “Evakuasi” yang merupakan projek UAS dalam mata kuliah Sinematografi & Dramaturgi yang diampu beliau. Jadi saya ditarik untuk projek Humas ini ka...