Langsung ke konten utama

Taro Latte dan Ban Lepas

 

            Pukul sepuluh malam, saat jalanan mulai sepi namun aktivitas di alun-alun menunjukkan hal sebaliknya. Dua orang pemuda semi-stabil berjalan-jalan di area alun-alun sambil menguliti tiap aspek yang ada di dalamnya. Salah satu dari pemuda itu terlihat antusias sebab ia tak pernah pergi ke alun-alun dengan tatanan yang baru ini. Ya, mereka adalah gue dan Dayat yang baru saja selesai gathering di kafe Lancar Abadi.

“Lho, kok air mancurnya berhenti sendiri, Yat?” gue kebingungan menyaksikan air mancur alun-alun Kajen yang mendadak berhenti melakukan atraksinya.

            “Kayaknya barusan lo ngucapin kata rahasia, deh, makanya jadi gitu,” jawab Dayat.

            “Ya udah ayok balik mukul-mukul yang kuning tadi.”

            Kami pun melanjutkan berjalan berkeliling alun-alun, menghampiri tiap sudut yang masih terang dan bisa disinggahi. Oh, ya, kenapa kami berakhir di sini? Dan kenapa gue jadi sosok yang amat ndeso? Sini biar gue ceritakan secara runtut kronologinya.

            HMPS KPI baru saja merampungkan agenda terbaru, yakni sosialisasi pada mahasiswa baru guna regenerasi anggota. Dan gue baru saja merampungkan mata kuliah Sosiologi Komunikasi dengan lesu: dapat tugas UAS yang membagongkan (lagi). Untuk membuang sedikit rasa lesu tersebut gue mencoba menemui Dayat di lobby.

            “Gila lo, bolos kuliah,” sambut gue langsung, menohok.

            “Hehe.”

            Dari sudut lain ruang meeting FUAD tempat dilaksanakannya sosialisasi, muncul Bang Rusdan & Mbak Farah tiba-tiba mengajak gue ikut kumpul-kumpul. Gue langsung mengiyakan, sebab gue kerjanya pagi kalau hari Jumat begini.

            “Ikut ngumpul yuk!”

            “Boleh.”

            Ketika keluar dari area kampus menuju lokasi gathering, gue merasakan ada yang aneh dengan sepeda motor gue: geal-geol layaknya biduan dangdut sedang melakukan dance pargoy. Gue turun dan mengeceknya, siapa tahu bannya kempes. Ternyata tidak! Justru hal yang lebih buruk terjadi: pelek sepeda motor gue yang belakang  bermasalah, alhasil gue terpaksa mencari bengkel untuk membetulkannya. Beruntung saja gue dibantu oleh Mbak Farah dan Mbak Hikma, jika tidak mungkin gue akan belepotan oli rantai karena mencoba mencari tahu sumber masalah dari geal-geol yang terjadi barusan.

            “Yang rusak apanya, Mas?” tanya Mas-mas Bengkel pada gue.

            “Aku kurang paham, Mas, yang jelas ini pangkal rodanya geal-geol kayak biduan pantura. Coba mas periksa deh,” jawab gue terus terang karena gue memang tidak pernah memelajari otomotif. Yang gue tahu hanyalah sepeda motor perlu ganti oli dalam waktu tertentu, sudah.

            “Wah ini sih kayaknya besok baru bisa jadi, Mas, harus ditinggal ini.”

            “Nggak apa-apa, Mas.”

            Sepeda motor lovely tersebut gue tinggal, gue pasrahkan pada sang pemilik bengkel yang tampangnya cukup sigma tersebut. Gue kemudian dipinjami motor oleh Mbak Farah, lalu kami beranjak menuju kafe Lancar Abadi. Kafe ini berlokasi dekat di area pemerintahan pusat Kabupaten Pekalongan, yakni Kajen. Lebih spesifik lagi, kafe ini berada di depan Gedung Kejaksaan.

            Sesampainya di kafe gue langsung kicep, bingung hendak melakukan apa, mau pesan juga tidak nafsu, akhirnya gue hanya duduk di pojokan sambil memegangi ponsel dan memajang tatapan kosong. Gue hampa.

            “Pesan, Zim.” Bang Rusdan mencoba menyapa tatapan kosong gue yang sudah mulai membuat bulu kuduk orang-orang di sekitar gue jadi merinding.

            “Ntar dulu, Bang. Lagi kepikiran motor gue,” jawab gue sayu, dengan tubuh yang kian layu.

            “Udah, nggak usah dipikir, pesen aja,” ujarnya lagi.

            “Oh, ini mau dibayarin lo ya, Bang?” tanya gue kepedean.

            “Hehe, ya nggak juga sih.”


            Gue kembali hampa. Di saat bersamaan azan magrib berkumandang, tanpa piker panjang gue memutuskan untuk bermain bola, ya bukanlah, salat tentunya. Mencoba menenangkan diri dengan salat, menjauhkan diri dari hiruk pikuk duniawi yang mengusik diri ini. Dan tanpa disangka serta diduga, jawabannya langsung muncul instan dari Tuhan. Memang, bukan jawaban atas kepastian sepeda motor gue bagaimana, namun justru jawaban gue harus ngapain di kafe ini…

            Suara itu, ya, gue sangat mengenalinya begitu keluar dari musala kafe. Manusia paling rasis sedunia yang mulutnya tetap akan kotor meski dicuci menggunakan sabun cuci piring terbaik di dunia; Dayat. Ia muncul entah dari mana dan duduk di seberang tempat duduk gue bersama dengan Muslimah, Bang Nabil, dan Mbak Diah. Tanpa pikir panjang langsung gue smack down saja manusia ini.

            “Bego, sakit cok,” ujarnya kesakitan.

            “Nah, ini, duo maut kembali bersatu,” sahut Mbak Diah. Ya, dalam kegiatan Taaruf Komunikasi yang diselenggarakan September 2024 kemarin memang kami berduet, dan maut, maka kami layak disebut sebagai duo maut, jangan dekat-dekat!

            Dengan hadirnya Dayat gue jadi tidak bingung harus ngapain, dan bahkan gue memberanikan diri untuk pesan makanan, bukan hanya dalam artian gue berani pesan karena sudah tidak kepikiran sepeda motor gue, namun memang secara umum gue punya ketakutan tersendiri untuk pesan di kafe, entahlah, takut saja.

            “Temenin gue pesen, Yat,” kata gue

“Oke,” jawabnya sembari bergegas menuju ke pemesanan.

Usai memesan, pertanyaan ini membuat gue bingung.

“Bayar cash atau Qris, Kak?”

“Hah? Keris? Ini maksudnya, Mas?” tanya gue sambil menyodorkan sebuah pusaka kuno khas Jawa.

“Bukan keris itu, Pe’a. Qiu-ris. Pembayaran online via M-Banking. Katanya lo udah punya?” Dayat menanggapi.

“Oh, yang itu. Oke. Gimana caranya?”

“Buka aja menu Q-Ris di aplikasi M-Banking lo, terus pencet pencetin aja.”

Gue ikuti langkah-langkah tersebut. And boom! Pesanan benar-benar bisa terbayar hanya dengan klik-klik. Sungguh dunia betul-betul sudah sangat maju dari yang gue kira, atau hanya  guenya saja yang ketinggalan zaman? Ah, sudahlah, yang penting gue jadi pesan. Dan struk pesanan hasil pembayaran Qris itu gue simpan sebagai kenangan, ahhh sentimentil momen.

Akhirnya pembahasan pun jadi tanpa hambatan. Gue jadi tidak canggung seperti beberapa saat sebelumnya. Percakapan dimulai dari buku yang sedang dipegang Muslimah, sebuah buku rilisan terbaru dari Tere Liye, “Teruslah Bodoh Jangan Pintar”, dan buku yang dipegang oleh Dayat yakni “Filosofi Teras” karya Henry Manampiring. Melihat kedua manusia ini memegang buku, gue tidak mau kalah gengsi, gue keluarkan dari tas sebuah buku yang sangat melegenda di negeri ini, karya dari penulis yang melegenda pula, yakni “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer. Kami bertiga sekarang seperti klub kutu buku yang nyasar di kafe.

“Buku ini tuh keren banget, relate dengan kehidupan dan kita udah melakukannya tapi kadang gak sadar, ya gak, Zim? Testimoni dari yang udah pernah baca…” Dayat sedang mempresentasikan Filosofi teras di hadapan Mbak Diah dan Bang Nabil.

“Betul banget, dulu gue baca itu waktu putus tahun 2022, yaa kurang lebih bikin gue tenang lah, gak terlalu overthinking kayak sebelumnya,” testimoni gue.

“Bang Henry Manampiring ini juga kemarin sempet diundang podcast di Raditya Dika, terus beliau ngasih tahu buku terbarunya yang isinya marketing, tapi ternyata marketing itu bisa diaplikasikan ke diri sendiri untuk cari jodoh loh!” gue menambahi, seolah jadi praktisi.

Mendengar kata jodoh, Mbak Diah mengencangkan posisi duduknya dan mencoba mendengarkan gue dengan saksama. Lalu, gue jelaskanlah aplikasi marketing dalam mencari jodoh tersebut. Mereka semua amaze.

“OH TERNYATA GITU? Bagi link podcastnya, biar gue juga nonton langsung,” ujarnya antusias.

Bersambung ke part 2…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memotret Kohesi Sosial Kliwonan Wonoyoso dari Sudut Pandang Individualisme

             Pagi hari. Waktu paling umum bagi sebagian besar masyarakat kelas pekerja untuk berangkat bekerja. Pun juga waktu paling umum untuk berangkat sekolah atau kuliah. Akan tetapi pengalaman berangkat bekerja atau sekolah & kuliah ini akan terasa berbeda jika harus melewati rute Jalan Raya  Kertijayan – Jalan Raya Sapugarut di hari Jumat Kliwon. Ada pemandangan yang berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya, yakni kerumunan pedagang jajan, pakaian, dan lain-lainnya berjejer di pinggir jalan sepanjang Jalan Raya Kertijayan hingga Jalan Raya Sapugarut.             “Kliwonan” atau “Pasar Kliwon” begitu warga setempat menyebutnya. Merupakan semacam tradisi spiritual yang sudah dilestarikan warga Desa Wonoyoso dan sekitarnya sejak lama sekali. Pusat tradisi ini sebenarnya berada pada Masjid Jami’ Wonoyoso yang konon katanya memiliki sumur keramat—jika mandi atau mi...

Satu Gagang Sapu

       Sabtu, 11 April 2026. Saya bangun tidur dengan perasaan lega karena baru saja menuntaskan satu tanggung jawab. Ketika mata melek, tak ada perasaan berat seperti beberapa hari sebelumnya. Akan tetapi perasaan tersebut ternyata tidak bertahan lama--langsung terusik oleh postingan status whatsapp salah satu teman di kampus yang baru saja dilamar oleh kekasihnya.    Bukan, bukan berarti saya cemburu karena teman saya dilamar. Pun kalau bisa dikata cemburu, konteks cemburunya bukan cemburu secara romantis, saya lebih memilih cemburu secara finansial. Sebab, secara praktis, mereka yang telah berani menapaki jalan menuju pernikahan artinya sudah bisa dikatakan mapan (walaupun tentu tidak sepenuhnya) baik secara finansial maupun mental dan aspek lainnya.      Saya mbatin sejenak, "Memang ya, bangun tidur itu harusnya langsung solat subuh habis itu olahraga atau baca buku, bukan malah buka medsos." Baru satu postingan saja sudah bikin saya mbat...

Alienasi dan Diskriminasi terhadap Mahasiswa Internasional

              Minggu sore, 12 Juli 2026. Saya baru saja pulang dari Stadion Hoegeng Pekalongan bersama Haroon setelah berlatih passing sepakbola. Haroon adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa internasional di UIN Gusdur yang berteman dengan saya. Pertama kali saya bertemu Haroon 28 Januari 2026, waktu itu Humas UIN Gusdur membutuhkan talent untuk video promosi kampus tentang keberadaan mahasiswa internasional di UIN Gusdur. Intinya video tersebut bermaksud memberitahu khalayak bahwa di kampus kami ada mahasiswa internasional yang berkuliah di dalamnya. Kebetulan sekali pada bulan Oktober 2025 saya sempat menjadi talent untuk video profil kampus, waktu itu Bu Afina Fahru yang menggandeng saya ke dalam projek tersebut, sebab beliau tahu saya menjadi aktor utama dalam film “Evakuasi” yang merupakan projek UAS dalam mata kuliah Sinematografi & Dramaturgi yang diampu beliau. Jadi saya ditarik untuk projek Humas ini ka...