Balada Gigitan Tomcat
Kamis sore, 7
November 2024 kemarin. Ada sesuatu yang mengganjal yang gue rasakan sepulang
kuliah. Ada sensasi luar biasa yang menghinggapi tubuh gue yang entah datangnya
dari mana. Sensasi tersebut membakar leher sebelah kiri. Pedas!! Panas!!
Membuat gue berteriak kesakitan minta tolong pada pemadam kebakaran.
Awalnya gue kira
itu hanyalah gejala gatal biasa, disebabkan iritasi ringan, namun semakin
dirasa rasa sakit ini kian menyiksa. Gue mengadu pada nyokap.
“Ma, leherku sakit
gatel-gatel dari kemarin. Kira-kira kenapa?” tanya gue.
“Coba sini lihat,”
jawab Nyokap.
“YA ALLAHHH APA
INI?”
Nyokap terkejut
melihat leher kiri gue yang berubah warna jadi merah menyala. Lebih menyala
dari semangat Timnas Indonesia di ronde ketiga kualifikasi piala dunia 2026.
Ternyata benar, rasa gatal yang dari tadi menyiksa kini berubah jadi petaka.
“Wah itu sih
kayaknya bekas gigitan Tomcat deh.” Mbak Diah, seorang agen Yakult keliling
langganan Nyokap tiba-tiba nimbrung.
“Tomcat? Hewan apa
itu?” tanya Nyokap.
“Kayak semut gitu,
Mbak, kalo nggigit bikin gatal sama panas. Panas nggak kamu, Mas?” Mbak Diah
mengarahkan pertanyaan pada gue.
“Iya, panas
banget.”
“MANA TOMCATNYA?
SINI BIAR KUGIGIT BALIK!” Nyokap trengginas.
“Mending langsung
dibawa ke apotek terdekat aja, Mbak, biar dikasih obatnya.”
Sontak Nyokap
membawa gue ke apotek terdekat untuk diberi obat. Sang Apoteker memberi gue
empat jenis obat yang dosis minumnya dua kali sehari. Obat disediakan untuk
tiga hari ke depan.
“Ini nanti ada
efek ngantuknya ya, Mas,” ucap apoteker tersebut yang akan selalu gue ingat.
Benar saja. Efek
kantuk yang disebabkan obat ini nyata adanya. Dan tidak hanya sekadar
mengantuk, gue bahkan terkesan seperti habis mabuk kecubung; diajak ngobrol
nggak nyambung. Di kantor waktu kerja misalnya, ketika gue dimintai tolong oleh
Afi untuk mengambilkan gunting guna memotong tali penyangga baju yang baru saja
disetor pemasok, gue malah mengambil sebuah bola voli milik Umar, putra tengah
Pak Bos.
“INI APAAN WOY?
GUE MINTA GUNTING!” Afi melempar bola voli ke arah gue, gue terpental sampai ke
Neptunus.
Kemudian hari
berikutnya di kampus. Hari itu hari Senin. Tiba waktunya bagi kelompok
Antropologi 3 yang beberapa waktu kemarin melaksanakan penelitian singkong di
Batang untuk mendiskusikan projek selanjutnya, yaitu produk penelitian singkong
berupa video dokumenter. Selain itu kami juga mendiskusikan penampilan praktik
kebudayaan antropologi ekonomi yang akan tampil di kelas antropologi minggu
depannya.
Sebelum masuk
kelas gue minum obat terlebih dahulu, gue sengaja meminum obat ini ketika
sampai di kampus, takutnya jika diminum dari rumah gue akan mengantuk di
perjalanan. Dan itu akan sangat merugikan gue, gue nggak mau lagi mengalami
kecelakaan—semua pengalaman kecelakaan gue aneh.
Ketika pembahasan
dimulai seusai kelas selesai, gue dimintai pendapat bagaimana kiranya video
documenter yang nanti akan kelompok kita sajikan. Di saat bersamaan efek obat
gigtan tomcat sialan ini mulai bereaksi. Gue tidak hanya sekadar mengantuk,
tapi ngelantur tidak jelas bagai pemabuk—pecandu kecubung akut.
“Gimana
pendapatmu, Zim?” tanya Lutfi.
“Hah?” reaksi gue,
sangat tidak menyenangkan.
“Gimana videonya
menurutmu?” Lutfi kembali menegaskan pertanyaanya.
“Video, Zim,
video…” Ghozali menambahi.
“Ohhh, soto. Gue
sih mau-mau aja. Ayok.” Dengan PD-nya gue berdiri menenteng tas—bermaksud
menuju ke warung soto terdekat.
BRAKK! Sebuah
kursi melayang ke arah gue. Hana melemparnya sekuat tenaga Wonderwoman. Gue
menangkisnya, sat, set, sat, set. Sekarang ruang kelas GPT 3.05 jadi arena
pertempuran dua ODGJ.
“BUKAN SOTO, PE’A!
VIDEO!”
“Ohhhh videoooo.
Oke oke.” Gue kembali duduk.
“Gimana?” tanya
Salmah dan anggota lainnya.
*Ngoorrrrrr.
Gue tertidur
pulas. Antiklimaks.
“Oke, skip aja,
nih orang kayaknya mabok berat,” ujar Ghozali, diskusi pun dilanjutkan tanpa
partisipasi gue.
Lalu entah dari
mana dan kenapa pertanyaan ini muncul…
“Zim, itu lehermu
merah merona habis dicium siapa?”
Gue langsung
bangun. Terkejut dan mencoba mengklarifikasi.
“Wah iya, parah
sih, lu habis staycation ya?” Lutfi mengompori.
“Ciuman sama siapa
lo?” tanya Ghozali.
“INI BUKAN BEKAS
CIUMAAANNNN. INI BEKAS GIGITAN TOMCAT!” gue kesal dan membanting gedung GPT.
Komentar
Posting Komentar