Herplicious: Ade, Ganteng-ganteng Bego

              Pernahkah lo memiliki seorang teman yang kelakuannya lugu, aneh, dan bikin lo pengin salto sambil menarik tuas gas sepeda motor sekuat tenaga? Kalau iya, gue juga sama. Kenalin, namanya Ade, teman satu kelas gue di kelas KPI A. Awalnya gue nggak terlalu kenal sama Ade ini. Yang gue tahu adalah dia mahasiswa yang menjadi penanda dosen akan segera masuk; kalau Ade sudah masuk kelas, artinya sekitar lima menit lagi dosen akan masuk. Iya, begitu memang…

            Kemudian, perkataan-perkataan aneh mulai gue dengar darinya. Yang paling gue ingat adalah ketika Ade menyanyikan lagu Hati-hati di Jalan yang dinyanyikan oleh Tulus. Liriknya tiba-tiba jadi aneh kayak gini:

            Ku kira kita asam dan garam

            Kukira kita asam dannnn garam (harusnya: dan kita bertemu di belanga)

            Kukira kita asam dannnnnn garammmmmm (kisah yang ternyata tak seindah itu)

            Kuuuu kira kita asam dan garam (kukira kita akan bersama)

            Kukira asam dan gaaaaram (begitu banyak yang sama)

            Kukira asam garammm (latarmu dan latarku)

            Semua liriknya tiba-tiba menjadi kukira kita asam dan garam, lalu Ade benar-benar mukanya masam karena gue tonjok menggunakan janitor. Harusnya sih sekalian gue garam-in, biar bisa sambil dinyanyiin KUKIRA KITA ASAM DAN GARAM.

            Yang lebih aneh? Ada.

            Ini terjadi ketika Ade diperintah memimpin permainan “estafet penghapus sambil bernyanyi” dalam sesi ice breaking mata kuliah filsafat umum. Ketika Ade menyuruh semuanya berhenti bernyanyi, dan penghapus berhenti di salah satu mahasiswi, Ade kemudian memberinya dua pilihan.

            “Truth or dare?” tanya Ade.

            “Truth.”

            “Okee… Sebutkan, jelaskan, dan berikan contoh…” dengan wajah tanpa dosa Ade melontarkan pertanyaan aneh tersebut.

            GUBRAK! Seketika kelas dipenuhi tawa. Kami semua ga habis thinking sama Ade yang nggak paham konsep Truth or Dare.

            “Dia tuh bener-bener ga ngerti apa gimana sih?” kekeh Alfia.

            “LUGU BANGEEETTTT! CAPEK!” teriak Hanifa.

            “Dah lah, capek.” Egi ikut berkomentar. Sedangkan gue sudah membalikkan badan dan terjun dari lantai tiga karena saking ga habis thinking-nya.

            Ada lagi…

            Kala itu kelas sedang menerima tugas UTS Bahasa Inggris dari Miss Ryan, tugasnya berupa menulis dialog berbahasa inggris dan difilmkan. Kebetulan Miss Ryan juga sedang pergi ke Korea, jadinya deadline pengerjaan lumayan lama dan menyebabkan kelas kosong. Di sinilah ke-absurd-an lainnya terjadi.

            Gue, Sandi, Revo, dan Ade cabut ke rental PS, mumpung tugas writing sudah jadi dan Miss Ryan tidak masuk kelas. Kami bermain di salah satu rental di daerah Bojong, entahlah gue lupa nama rentalnya. Rental ini baru buka pukul sepuluh pagi, sedangkan kami sampai di rental pada pukul 09.40. Kami pun menunggu.

            “Belum buka coy, gimana nih?” tanya Revo.

            “Kita tunggu aja, bentar lagi buka tuh tulisannya,” jawab gue.

            “Ndiiiii Sandiiiii…. Main yuk….” Sambil menunggangi gerbang rental PS, Ade berteriak dengan suara ala anak TK sedang mengajak temannya pergi bermain.

            “YA ALLAH APASIHHHHHH.” Revo membalikkan badan, kemudian salto dan menabrakkan diri ke truk pembawa pasir yang sedang lewat.

            “Eh ini ada nomor abang-abang ps-nya. Coba aku WA aja kali ya?” usul Ade.

            “Boleh tuh,” jawab Sandi mengiyakan.

            “Ayok selfie duluu kita pap ke abangnya.” Ade mengangkat handphone-nya dan kemudian kami selfie. Selang beberapa saat kemudian gue yang menabrakkan diri ke truk. Kali ini truk pengangkut paket.

            “YA ALLAHHHH APASIHHHH CAPEKK AKU.”

            Tepat pukul sepuluh, abang-abang yang punya rental tersebut datang sambil membawa sebongkah berlian, sorry, bukan… Lo kira Bang Toyib? Sekotak penuh es batu untuk menyajikan es di rental. Iya… FYI, di rental ps umumnya ada semacam warungnya gitu. Ada minuman es, mie rebus, dan aneka makanan ringan. Ya elah kudet amat lo ginian ga ngerti.

            “MAKASIH BANG UDAH DATANG, SAYA GAKUAT HARUS NABRAKIN DIRI KE TRUK TERUS!” kata gue.

            Permainan pun dimulai. Kami memainkan mode liga, yang mana satu di antara kami harus memiliki poin tertinggi untuk bisa menjadi juara di akhir musim. Seperti biasa, gue pick Barcelona, lalu Sandi pick Manchester United, Revo pick Tottenham Hotspurs, dan Ade Liverpool. Ada satu teknik PS yang ternyata baru gue pelajari dari Ade hari itu. Ini dia.

            (Darwin Nunez sedang menggiring bola)

            “AUUUUU AUUU AUUU SERIGALA AUUU.” Ade berteriak melolong menirukan suara seekor serigala.

            “Itu maksudnya biar apa?” tanya gue.

            “Biar gol, liat nih…” (Darwin Nunez menendang bola…. Dan gol)

            “KOK BISA????” gue dan Sandi memegangi kepala dan dengan memasang wajah heran.

            “Lo megangnya kepala lo sendiri dong, kenapa lo pegang punya gue,” ujar Sandi.

            “Oh iya, sorry deh,” singkat gue.

            Singkat cerita Ade memenangkan liga dengan kemenangan bersih. Dan dua di antaranya hasil membantai Sandi dan gue. Benar-benar miris dan sungguh ironi yang absurd. Gue kemudian mencoba memakai tim Liverpool dan meniru trik Ade tersebut. DAN BENAR! Trik tersebut berhasil.

            “AU AU AUAUUUUUUUUUUUUU!” gue berteriak.

            “YA ALLAH APASIHHHHH.” Kami berempat bersamaan melompat ke luar dan menabrakkan diri ke sebuah truk pengangkut sampah.

            Ada yang lebih parah.

            Ini terjadi ketika gue, Zali, Revo, Sandi, dan Ade sedang salat zuhur berjamaah di musolla gedung FUAD. Kami nembol jamaah dengan salah seorang mahasiswa yang sedang salat sendiri. Lalu, inilah yang terjadi. Selepas jamaah selesai, kami memakai sepatu di depan musolla sambil berbincang-bincang. Ade tiba-tiba nyeletuk tentang mahasiswa yang tadi mengimami kami salat.

            “Imamnya tadi aneh banget deh,” ujar Ade.

            “Aneh kenapa, De?” tanya Revo.

            “Ya aneh… Soalnya tadi kayaknya lima rokaat deh, bukan empat.”

            “PSsssssttt! DE ADEEE!” gue berbisik sambil melirik-lirik ke samping kiri.

            “Apa sih? Gue lagi cerita. Kayaknya imamnya lagi banyak pikiran deh,” sambungnya.

            “ADEE!” gue kembali berbisik, kali ini lebih keras, sambil masih melirik ke samping kiri.

            “WOY KAMPRET IMAMNYA TUH YANG TADI DI SAMPING KIRI GUE!” gue berubah menjadi Black Panther, kemudian mencakar-cakar habis tubuh Ade.

            Lagi-lagi. Kami dibuat ga habis thinking oleh Ade. Bedanya, ini melibatkan orang lain. Dan gue yakin sang Imam tersebut pasti merasa sakit hati dan trauma menjadi Imam salat.

            “AHAAHAHAA YA ALLAHHHH ADE.” Revo geleng-geleng kepala. Zali geleng-geleng kaki. Gue dan Sandi geleng-geleng perut.

            “Kok lo ga bilang dari tadi sih, Zim?” seperti biasa, tanpa wajah berdosa Ade bertanya.

            “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.”

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer