Perayaan Bayangan!
Rabu, 27 September 2023. Siang itu udara sekitar Bojong sangat panas. Debu beterbangan merusak penglihatan. Begitu juga dengan suara-suara alat berat yang berisik bagaikan rindu yang tak pernah sampai kepada sang pemiliknya. Saat itu gue baru saja cuci muka di toilet Gedung FUAD lantai 4. Sialnya, yang basah tidak hanya muka gue, namun juga kemeja gue yang tersiram keran yang sedang mengganas, mungkin lagi PMS.
Gue sama sekali tidak menduga kalau di hari ulang tahun gue yang ke-18 tersebut akan ada orang-orang yang membantu gue untuk merayakannya. Ketika gue masuk kelas dan seperti biasa gue melakukan rutinitas menopang dagu, rutinitas kecil yang belakangan jadi meaningfull, tiba-tiba suara menggelegar laksana petir di siang bolong muncul. Namun, itu bukan suara petir, melainkan suara Alfia dkk. yang meneriakkan yel-yel penyambutan presiden.
Bukan njir, ngaco. Alfia dkk. menyanyikan lagu happy birthday sambal memegangi sepotong kue coklat berlapiskan krim ungu yang dihiasi lilin berangka satu. Iya. Beneran Cuma angka satu doang.
“Ini gue baru lahir kemarin sore ceritanya?” tanya gue mencoba meluruskan.
“Iya.” Oh… gue kembali menjadi bayi.
Gue meniup lilin angka satu tersebut dengan perasaan salting. Dan kayaknya ini tidak perlu gue jelaskan, paham sendiri ‘kan? Iya. Udah gitu aja.
Perayaan usai. Gue kini duduk di tebing bawah kantin bersama dengan salah satu bidadari yang gue ceritakan di bab sebelumnya. Gue nekat mengungkapkan isi hati gue yang bermacam-macam ini. Iya, gue nekat. Ini adalah pertama kalinya gue mengungkapkan perasaan via live-action, biasanya gue yang cemen ini hanya bisa ngomong lewat WhatsApp, dan hasilnya hubungannya pun berakhir di WhatsApp. Ironis. Miris.
Coba tebak apa jawabannya?
“Terus terang Aku tersanjung disukai kamu. Kamu tuh orangnya pinter, multi-talenta, ambisius, pokoknya keren, lah…”
Gue ge-er. Untuk sesaat gue terbang memasuki lapisan Stratosfer. Namun…
“…aku nggak bisa kalo kita harus pacaran atau apalah namanya. Aku maunya kita jadi bestie aja. Bisa?”
Gue terjatuh dari lapisan Stratosfer. Jatuh sejatuh-jatuhnya ke dalam inti bumi. Di sini gue bertemu dengan ras “Manusia Rendah Hati”. Gue bahkan sempat merekam percakapan mereka yang sebagian besar seperti ini, “Puh…. Ajarin dong. Masih pemula aku, Puh, Sepuh.” Antiklimaks.
“Kamu kayaknya salah mencintai orang, Zim. Kamu tahu sendiri kan aku orangnya gimana? Udah sering lihat juga, ‘kan? Maaf ya… Aku memang begini,” tambahnya.
“Nggak bisa diusahain?” gue mencoba mengintervensi, juga menyelamatkan diri dari jurang patah hati karena luka lama yang baru sembuh harus tersayat lagi.
“Aku nggak tahu, Zim. Tapi aku maunya kita tetep gini aja. Kita jangan jadi asing, ya?”
Gue meng-iyakan. Mencoba take the positive think, ambil sisi baiknya. And in fact gue masih bisa dekat dengan dia. But… something happened.
Sampai tulisan ini gue buat, gue masih sesekali melihat doi “akrab banget” sama cowok-cowok. Gue tidak bisa menyalahkan atau melarang doi tentang hal ini. But, in fact this shit still make me feel hurt. Gue capek. Gue kemudian berpikir kembali apakah langkah gue untuk tidak menjadi terasing darinya sudah benar? Jika benar, mengapa gue harus selalu merasakan perih di hati seperti saat ini? Gue lebih bisa terima jika dibunuh dalam sekali, daripada harus menerima luka dengan ditusuk perlahan namun berkali-kali. Endingnya sama-sama mati, namun beda rasa sakit di hati. Seperti halnya Bidadari 1 yang ternyata sudah berpasangan dengan seseorang, gue langsung bisa merelakannya dan kemudian melangkah jauh menyusuri jalan hidup gue, sedangkan yang satu ini? Gue benar-benar dibuat bingung dengan situasi pelik begini.
Perih, nadi berdenyut lirih. Gue meneguk malam, menghabiskan rindu yang ia tinggalkan. Tidak begitu pahit memang, namun perih di perasaan. Kembali pada tingkat sepi yang tertinggi; sepi dalam keramaian. Gue terus berteriak dalam kepala saat orang-orang sedang diam, dan sebaliknya diam saat orang-orang sibuk berteriak menyerukan impian-impiannya. Hanya ada satu kata untuk terus gue katakan: capek.
Malam minggu, tanggal 30 September 2023. Tepat 58 tahun peringatan peristiwa G30S/PKI. Sebuah pesan muncul di beranda WhatsApp gue. Egi di sana. Egi adalah teman sekelas gue yang berasal dari Karawang. Belakangan doi sering gue ganggu dengan pertanyaan “Tutor Bang?”. Dan jawabannya selalu saja menuntun gue ke momen malam minggu ini; sebuah pertemuan untuk melakukan pembicaraan mendalam.
Egi tahu gue naksir si dia sejak gue sering melirik ke bangku belakang. Suatu hari dia bilang, “Kalau suka ungkapin. Kayak gua.” And now, it really happened. And see what is going on now? Nothing.
“Lu free nggak malem ini? Mumpung gue UKM libur, ayo ngobrol-ngobrol biar lu enakan dikit,” katanya di seberang sana.
“Free, Mang. Tapi jangan di angkringan ya, gue takut masuk angin. Kita main PS aja gimana? Lu bisa main PS nggak?” jawab gue menawarkan tempat untuk ritual deeptalk yang ia maksud.
“Bisa. Sharelok aja ntar abis magrib gue otw dari kampus.”
Kebetulan hari itu gue kerja izin pulang cepat karena ada insiden jatuh dari sepeda motor. Sungguh membagongkan, namun ada hikmahnya; gue bisa lebih cepat ketemu si Mamang Sunda ini untuk mendengarkan wejangan-wejangan magis ala urang sunda-nya. Cheezzz!
Pukul 18.42, telepon berdering tepat ketika gue sedang mengatur formasi tim dalam game E-Football 2024 yang baru gue download hari Rabu kemarin. Sebab gue butuh pengalihan. Paham sendiri lah. Gue kalau sudah pegang handphone sudah tentu akan langsung buka WhatsApp, dan di sana tidak ada pesan berbau cinta atau semacamnya. Jadi? Ya, pengalihan dengan game adalah hal yang paling masuk akal. Gue logout dari game. Angkat telepon, tanyakan posisi.
“Gue udah nyampe di sharelok yang lo bagi. Lo di mana?” aksen Sunda yang khas mengiringi Egi mengucapkan kata.
“Coba VC, Gi. Biar keliatan,” kata gue.
Egi ternyata mendarat di gang sebelah, gang 5, sedangkan rumah gue di gang 6. Tapi, tak apa. Biar gue yang ke sana.
“Tunggu bentar, gue ke situ.”
Tak butuh waktu lama gue langsung menemukan lokasi tempat terdamparnya Egi. Gue membawa 13 anggota tim SAR untuk menyelamatkannya. Buset.
“Halo, Mang!”
“Oy! Rumah lo yang mana?” tanyanya penasaran, sebab memang gue muncul dari blind side, layaknya pemain sepakbola yang bermain di posisi penyerang sayap; muncul dari sisi tak terlihat dan merangsak masuk kemudian mencetak gol. Wkwk.
“Rumah gue masih ke sana, beda gang, tapi sharelok-nya emang sering gini,” klarifikasi gue.
“Oh, gitu. Ya udah ayo langsung aja!” ajaknya.
Kami menuju ke Tama Game yang lokasinya ada di depan gang 6. Tempat gue dan Sohib Kentir Melintir gue, Dany, biasa main PS juga. Juga dengan kawan-kawan satu kelas gue seperti Ukes dan Nabil KW (kalo lo pengikut setia blog gue, lo tahu bahwa ada dua Nabil di kelas gue dulu).
“Lo udah makan belom, Mang?” gue basa-basi sedikit.
“Ini gue bawa makan, ‘kok.”
“Oh, ya udah deh bagus. Ringan deh beban dompet gue.”
“Sat…”
Kami ambil TV di sebelah selatan di dekat pintu masuk. Langsung open play menuju game E-Football 2024 (Disclaimer: ini beda tipis dengan di hape ya). Seperti biasa gue pick Barcelona. Sedangkan Egi pick Manchester United.
“Biar kelihatan kalahnya,” ujarnya meledek klub yang belakangan memang sedang lawak-lawaknya ini.
“Hahahaa…” Gue tertawa kecil, “… btw lo sebelumnya pernah main ps nggak?”
“Pernah, tapi udah lama banget. Terakhir main waktu masih SD,” jawab Egi sambil membuka kotak nasi ayam katsu yang tampak sedap dan mengggoda indra penciuman gue.
“Buset, udah lama banget ya!”
Match demi match kami mainkan. Kami berimbang. Gue satu kali menang. Egi satu kali menang saat menggunakan Timnas Indonesia sedangkan gue Argentina, sisanya kami berimbang. Salut. Udah lama nggak main masih bisa sesengit ini memberi perlawanan.
Di sela-sela bermain inilah pembicaraan yang tadi gue maksud terjadi. Gue mulai dengan pertanyaan, “Udah lama lo jadian sama si Cici?”
“Nggak lama banget sih, gua kenal dia dari kelompok pas ospek kemarin.” Egi menjawab dengan tangan kanan memegang sendok, sementara tangan kirinya memegangi stik konsol PS3.
“Oh, kisah cinta ospek gituu…” jawab gue sambil menekan tombol R1 (tombol untuk berlari kencang dalam game bola) dan kemudian melancarkan tendangan keras ke gawang Manchester United.
“LEWANDOWSKIII!!!!!” teriak gue.
“Bangsatttt….” Egi berteriak. Ayam katsu yang sedang ia kunyah sampai keluar dan menjadi ayam seutuhnya. Sungguh ironis dan miris.
“Kalo lo sendiri, gimana?” Egi mempertanyakan kelanjutan kisah cinta gue yang rungkad ini. Lalu gue menceritakan apa yang terjadi pada hari rabu kemarin. Tentu saja masih dengan memegangi stik dan memacu tombol R1 sekencang-kencangnya.
“Ya udahlah… Emangnya nggak ada cewek lain apa?”
“Banyak sebenarnya, Mang. Cuma ya… dia tuh kayak beda aja gitu. Ada sesuatu yang nggak bisa gue lihat di cewek lain, tapi di doi ada.”
“Oke gua ngerti… Terus lo mau gimana kalo udah gini?”
“Nggak tahu juga sih. Gue jadi kayak capek sendiri gitu.”
“Nih inget. Kalo lo suatu saat nanti ‘jatuh cinta’ sama orang lagi, jangan terlalu berharap. Gua aja gitu. Gua nggak berharap lebih, makanya kalau gua gagal nggak perih-perih banget.” Egi mulai memberikan wejangannya. Gue melongo, kebanjiran fakta.
“Tapi lo kan nggak gagal, Gi,” sanggah gue.
“Kan seandainya, Zim.”
“Tapi gue sendiri juga nggak tahu ntar bakal bisa jatuh cinta lagi sama orang atau nggak, Gi. Untuk saat ini gue masih stuck di dia.”
“Ya udah, pokoknya lo inget aja pesan gue.”
“Air putih anget kan? Iya inget. Kalo gue es gula batu.”
Antiklimaks.
Bosan bermain bola, kami pindah ke game Cars 2. Kemudian bosan lagi, kami pindah lagi, kali ini ke game Army Of Two yang tulisannya lebih bisa dibaca sebagai “Army Of Titit”. Ini serius. Gue nggak bohong. Coba lo cek sendiri di google.
Yah… seperti halnya permainan dalam PS malam ini. Kami berpindah dari satu game ke game lain, bisa gue asumsikan kalo urusan hati kita juga begitu: pindah dari satu hati ke hati lain (jika gagal ataupun dirasa akan gagal).
Namun, untuk saat ini gue lebih suka untuk bermain E-Football. Gue nggak terlalu suka yang lainnya. Pokoknya E-Football dan E-Football. Dan lagi, gue asumsikan bahwa untuk saat ini gue belum pengen jatuh cinta ke orang lain selain si doi. Gue disclaimer lagi, UNTUK SAAT INI. Kalau nanti? Entahlah.
Malam kian larut. Riuh perlahan mengusik perut. Rasa ngantuk di mata perlahan mulai meribut. Kami memutuskan untuk mengakhiri permainan pada pukul 21.30. Lalu kembali ke tempat peristirahatan masing-masing. Egi ke rumah saudaranya di Pekalongan Kota. Gue di sini, ujung gang Kertijayan. Urusan hati, Egi kembali ke Cici. Sedangkan Gue kembali ke sepi, menikam jantung sendiri. Pedih, namun harus tetap bisa berdiri. Ternyata setelah merayakan ulang tahun, gue harus kembali merayakan kesendirian, menari dengan bayangan. Arghh, sialan.
Kau tahu apa yang menyenangkan dari sendiri? Ya, mengenangmu sepuasnya.
- Wira Nagara.
Rada absurd tapi lucuuuu.....sadnya kerasa bangeeet
BalasHapusSemoga kamu nggak sad.
HapusKerennnn azim
BalasHapusMakasih, cobain juga kegoblokan lain gue di sosmed.
HapusKeren bang
BalasHapusKeren apa kere?
Hapus