Menuju Fase Selanjutnya
Mentari malu-malu kucing untuk menampakkan sinarnya pagi
ini. Awan mendung mencegah orang-orang untuk bangun dari tempat tidurnya.
Sementara mereka yang sudah terbangun sejak fajar tiba, lagi-lagi harus
memeriksa jam dinding; apakah sudah waktunya berangkat kerja/sekolah atau
belum. Namun, meski cuaca pagi ini mendung, gue yakin ia hanya mampir. Layaknya dia yang hadirnya hanya sekadar mampir lalu berakhir mangkir. Huft!
Gue baru saja selesai mandi dan sarapan (tentunya sudah
memakai baju). Kali ini memegang handphone dan membuka sebuah roomchat WhatsApp.
Gue memulai percakapan dalam roomchat tersebut.
“Pak, saya izin ga berangkat. Hari ini ada foto kartu
mahasiswa di kampus sama mau ambil dana pip di bank, kemungkinan seharian,”
ketik gue di roomchat Pak Ziyad, selaku bos gue saat ini.
“Oke siap,” jawab beliau.
Gue meraih tas punggung. Mengambil kunci sepeda motor,
kemudian menyalakannya untuk memanaskan mesin sambil menunggu Sandi datang menjemput
gue. Beberapa menit sebelumnya gue sudah WhatsApp dia untuk jemput gue, tapi
gue bawa motor sendiri.
“Jemput, San, tapi gue bawa motor sendiri soalnya
sekalian mau ke bank.”
“Ntar lo dikira mau ngelamar kerja dong, lo kan pakai
hitam putih gitu.”
“(Emoji batu).”
Inilah dia. Hari di mana gue mulai memasuki fase kelima
dalam hidup gue: dunia perkuliahan, sebuah petualangan yang ngeri-ngeri sedap.
Sebuah kehidupan yang penuh tantangan dan pengurasan pikiran, kata orang sih…
Gue sendiri belum tahu, but we will see it.
Sandi datang dengan pakaian yang sama seperti gue: kemeja
putih dan celana hitam, ditambah masker hitam menambah kesan maskulin dalam
dirinya. Tapi dia bau popcorn, sekarang sudah nggak kerasa maskulin, tiba-tiba
jadi mas--beliin.
“Punya lo katanya belum bisa log-in akun DPM-nya? Ntar
gimana lo fotonya? Kan syarat foto harus print DPM-nya dulu?” Sandi
mempertanyakan masalah yang selama ini sedang menghantui gue, yaitu tidak bisa
log-in untuk mengisi Data Pribadi Mahasiswa.
“Udah ketemu solusinya, gue bawa aja password yang
tertera di bukti pembayaran UKT, lalu gue kasihin ke adminnya. Ya, setidaknya
kata kating gitu deh,” jawab gue sambil berpose layaknya anggota boyband yang
grupnya bubar sebelum single pertamanya rilis.
“Ya udah, ayo berangkat.”
“Kita mampir fotokopian dulu beli materai buat gue nanti
kalo DPM-nya udah jadi,” tambah gue.
“ ‘Kalau jadi…’. “ ledek Sandi, gue marah, gue
melemparnya ke arah barat daya dengan sekuat tenaga. Membuatnya bertemu dengan
penciptanya. Namun, sayangnya ia belum diizinkan menghuni surga, jadi, dia
dikembalikan ke gue.
Jam menunjukkan pukul 07.30. Waktu yang ideal untuk
perjalanan dari Kertijayan menuju Bojong sebelum pukul 08.00. Yoi, tepat waktu
itu adalah gue, prinsip gue adalah datang sebelum dimulai atau tidak sama
sekali. Jadi, kalau lo mergokin gue telat, lo bilang aja, “GA USAH DATANG
SEKALIAN, BLOK!”. Setelah membeli materai sepuluh ribu yang tadi gue maksud,
kami pun memulai perjalanan isra miraj, bukan, sorry… Perjalanan menuju kampus
UIN Gusdur yang ada di daerah Bojong. Sandi memacu sepeda motor VariOHHHHH-nya
dengan kecepatan penuh, sedangkan gue dengan RevOHHHHHH koperasi hanya mentok
di kecepatan sedang.
“Cepetan dikit, Zim!” teriak Sandi samar-samar terdengar
di antara gemuruh suara mesin truk dan kendaraan lain.
“OKEEE GUE COBA.”
*Blleggggg.
Ya, itulah yang terjadi jika lo memaksa sepeda motor tua
untuk ngebut. Knalpotnya akan meledak. Gue yang menyadari hal ini langsung
menurunkan kecepatan agar tidak terjadi ledakan susulan, gue takut terjadi
tsunami. Loh? Ledakan knalpot apa gempa?
“GA BISA NGEBUT, COYYYYY. SANTAI AJA YAAA!!! KITA
NIKMATIN ALAM!” gue mencoba memberitahu Sandi kalau sepeda motor gue nggak kuat
untuk dipacu dengan kecepatan maksimal. Tapi sepertinya Sandi salah tangkap.
“OKEEEE! BOLEHHH! NTAR KITA MAKAN AYAM! KITA NIKMATIN
BARENG!”
Damn.
Sekitar setengah jam perjalanan (dikarenakan gue nggak
bisa ngebut) akhirnya kami berdua sampai di kampus. Gue yang biasanya mentok
melihat bangunan sekolah yang tidak terlalu besar terkejut dengan wujud dari
gedung kampus, buset. Dan di dalamnya bukan berisi ratusan orang seperti di
sekolahan, melainkan ribuan. Ada mahasiswa dari berbagai fakultas dan program
studi, para dosen dari berbagai program studi, para dekan, dan atau apalah itu
namanya, serta ibu-ibu dan mas-mas kantin yang tak bisa gue sebutkan satu
persatu, KALIAN BANYAK SEKALIII.
Gue dan Sandi datang tepat pukul 08.00, nggak lebih,
nggak kurang. Tapi masih belum terlihat manusia-manusia yang bertampang cupu
seperti kami yang menggunakan setelan hitam putih seperti sedang mencari
lowongan pekerjaan. Kami parkir di tempat yang bahkan kami nggak tahu itu
tempat apaan. Yang jelas tempat tersebut berada di sebelah utara gedung
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, pokoknya kami ikut yang di depan.
Gue masih terpukau (baca: gue ndeso) dengan bangunan
kampus yang megah. Ini masih di Pekalongan, bagaimana dengan kampus-kampus di
luar sana? Sandi pun demikian. Ia terkesima dengan tata letak dan warna-warna
yang bertebaran di lingkungan kampus.
“Oke. Fotonya di gedung apa? Namanya apa sih tadi?” tanya
gue sambil mencoba mengingat nama gedung yang disebutkan di grup WA calon
mahasiswa baru.
“Gue jugua lupa namanya, “ jawab Sandi. Wajahnya
menunjukkan bahwa ia sedang berpikir keras , seakan partikel-partikel dalam
otaknya berbenturan dan mendapat impuls negative.
“Kita jalan aja deh, siapa tahu ketemu maba lain,” usul
gue.
“Ayo aja gue mah.”
Kami berjalan ke arah barat. Di sana samar-samar tampak
tiga orang cowok yang mengenakan setelan hitam putih persis seperti kami saat
ini. Mereka berdiri di depan sebuah gedung, tertulis di sana “Gedung
Perkuliahan Terpadu” . Akhirnya ketemu juga! Kami lantas menghampiri ketiga
cowok berbadan tegap tersebut.
“Mahasiswa baru juga ya?” tanya gue sok akrab. Untungnya
mereka asyik diajak sok akrab. Akhirnya kami berlima pun menjadi kepiting.
Sebab kami A Crab. Huft.
“Iya, kenalan dong.”
Gue nggak mau bohong dan terus terang saja… Gue nggak
ingat nama ketiga cowok berbadan tegap tersebut. Sumpah. Setelah mereka
bersalaman dengan kami dan menyebutkan bahwa mereka berasal dari prodi yang
sama dengan kami, yaitu KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam), otak gue langsung
nge-hang. Penyimpanan internal hampir habis. Otomatis file-file kurang penting
terhapus, bersamaan dengan nama mereka.
“Kenalin, gue Azim, KPI.”
“******, KPI.”
Ya, begitulah. Mau bagaimana lagi? Harus gue sensor.
Takut kena copyright kalau menggunakan nama samaran lagi. Udah deh, cukup
orang-orang tertentu dalam hidup gue aja yang pakai nama samaran, kalian nggak
usah. (emoji menangis, emoji batu).
Dan setelah berjabat tangan dan bertukar senyum selama
kurang lebih tiga puluh enam tahun, kami pun memasuki gedung yang dimaksud.
Gedung GPT, atau apalah namanya. Kami masuk diikuti oleh beberapa calon
mahasiswa lain di belakang kami, cewek dan cowok di sini berbaur, berbeda
seperti di madrasah dulu. HEHEHEHEHE, IF YOU KNOW WHAT I MEAN.
Bersambung ke part 2.
Komentar
Posting Komentar