Bimbingan Belajar
Lalu-lalang anak kecil--seumuran sekolah dasar--menghiasi mata gue yang sedang duduk termenung di ruang tunggu. Sebuah bangku beralaskan mirip bantal ini membuat gue kian nyaman dan enggan meninggalkan ruangan yang sangat asyik ini. Di seberang gue ada mbak-mbak yang bertugas melayani administrasi tempat ini. Sedang di lantai dua sana, adalah ruang-ruang belajar bagi para peserta bimbel. Ya, saat ini gue sedang berada di sebuah tempat bimbingan belajar untuk anak SD, SMP, dan SMA di Kota Pekalongan. Area parkir tempat bimbel ini cukup luas, mampu menampung sekitar empat sampai lima mobil dan puluhan sepeda motor.
Siapa yang gue jemput? Namanya Nana
dan Umar. Anak bos gue.
Sepuluh menit yang lalu...
"Nak... Azim. Tolong
jemputin anak-anak di Bimbel, ya!" Bu Bos memandatkan sebuah perintah
pada gue yang baru saja menyelesaikan ibadah salat isya di sela-sela pekerjaan
gue.
"Siap, Bos!" seru gue
menanggapi.
Gue meraih helm, menarik kunci
sepeda motor, kemudian menarik tuas gasnya dan melaju dengan kecepatan stabil
menuju tempat bimbel.
Lokasinya sendiri gue cukup akrab.
Terletak di pusat kota, dekat dengan alun-alun kota dan dekat pula dengan
percetakan tempat dulu gue mencetak majalah semasa menjadi Pimpinan Redaksi di
sana (Buletin ATSAR MAS SK tahun 2021-2022). Rumah Grafika namanya, dulu saat
gue sering riwa-riwi di tempat ini bagian depannya masih dipenuhi
batu-bata--sebab tengah direnovasi. Beda
dengan sekarang yang sudah tampil estetik dan lebih kekinian, sama seperti
tukang lay-out-nya yang gue kenal selalu update desain lay-out,
Mas Fikri.
Dari arah Warmindo, gue jalan ambil
kiri. Masuk pertigaan jika gue ke kanan gue akan mendarat di Rumah Grafika,
namun tujuan gue ada di kiri, setidaknya itu yang dikatakan Bu Bos saat memberi
navigasi menuju ke mari.
"Pokoknya nanti kalau udah
ada masjid belok ke kiri, terus ikuti jalan, tempatnya ada di sebelah kanan
jalan."
"Oh, masjid yang di kampung
Arab itu ya, Bos?"
"Iya, bagus ya,
masjidnya."
Benar. Tempat bimbel tersebut ada di
kanan jalan. Di sana tertuliskan "Impress", yang jika diartikan ke
dalam Bahasa Indonesia adalah "terkesan". Mungkin maksud dan tujuan
dari pemberian nama Impress adalah agar anak-anak yang dididik dan diajari les
Bahasa Inggris di tempat ini bisa membuat guru dan teman-teman lain di
sekolahnya bisa terkesan. Impressed. Atau filosofi lain, gue
mengartikannya secara harfiah: gue terkesan begitu mendaratkan kaki di tempat
ini. Suasananya beda dengan suasana tempat belajar yang gue kenali.
Jika belajar di rumah tentu saja
suasananya adalah suasana kampung, ada sedikit distraksi dari sinetron yang
ditonton bokap dan nyokap, lalu ditambah dengan gemrundung suara
sleepcall abang gue sama ehem-annya. Jika belajar di bimbel
kecil-kecilan skala kampung pun mungkin masih 11/12, hanya saja ditemani tenaga
pendidik yang cukup kompeten di bidang terkait. Tapi, di sini, suasananya
benar-benar berbeda. Mereka yang berlalu-lalang bukanlah orang di kelas gue
(baca: mereka orang kelas menengah ke atas, gue kelas menengah ke bawah).
Ketika gue memarkirkan sepeda motor
Scoopy dengan kunci kontak yang menyerupai tuas kompor tersebut, gue mendapati
seorang anak usia sekitar SMA yang dari tampangnya saja sudah kelihatan kalau
dia anak cerdas, baik cerdas sejak lahir, maupun cerdas karena telah menjadi
member dari bimbel ini. Pokoknya cerdas! Beda dengan tampang gue yang kusut,
kucel, lupa cukur kumis pula! Ah, sialan.
Gue
duduk di ruang tunggu. Lantai bawah. Gue menunggu selama kurang lebih sepuluh
menit. Hingga pada akhirnya target penjemputan menampakkan batang hidungnya,
gue pun menghampiri mereka.
Tampak
dari dalam di tempat gue duduk, Nana dan Umar sedang ilang-ileng, seperti mencari seseorang. Keduanya terlihat lucu
dengan setudung es krim di masing-masing tangan mereka. Ah, ya, anak-anak.
“Di
mana, ya?” tanya Nana sambil mengirim sebuah pesan WhatsApp entah pada siapa,
mungkin Ummah-nya.
“Lha, itu, Mas Azim. Di belakangmu!” ujar
Umar seraya menunjuki gue menggunakan es krimnya.
“Yok,
pulang!” gue yang tidak pandai berbasa-basi langsung mem-pick-up mereka berdua
dan mengangkut keduanya kembali ke rumah. Di sepanjang jalan mereka bercanda
dan tertawa riang, wajar, namanya anak-anak. Tapi, kenapa gue tidak bisa
memahami apa yang mereka bicarakan?
Astaga. Setua inikah gue? Emot menangis.
Sesekali
Umar dan Nana membercandai pengguna jalan lain. Mereka meneriaki “Mas” dan
“Mbak” pada setiap pengguna jalan yang mereka temui, lalu tertawa bersama
kembali hingga akhirnya es krim Umar jatuh di pundak gue dan menyebabkan hawa
dingin yang nggak karuan. Sudah gue tidak mengenakan jaket, ini ditambah es
krim rasa pundak kecut sepulang kerja, ampun deh!
Tugas gue sebagai pengasuh dua puluh menit pun selesai. Begitu pula tugas utama di kantor. Gue pulang dengan membawa sebuah pernyataan dan pertanyaan. Pernyataannya adalah bahwa penting bagi gue untuk mempersiapkan masa depan anak-anak gue kelak dengan baik dan benar serta tepat sasaran. Untuk mewujudkannya, gue nggak mau bohong, butuh banyak modal. Baik finansial, mental, investasi lingkungan yang baik, pendidikan, dan masih banyak lagi. Lalu semua itu diakhiri dengan satu pertanyaan, “Ini gue beneran nih, sebagai seorang anak bontot mikirin gimana ngurus anak? Bjir.”
Komentar
Posting Komentar