Singkong Pantura
“Hari
ini kita jadi penelitian ke kebun singkong?” gue bertanya di grup WhatsApp
kelompok tiga penelitian Antropologi.
“Jadi.
Ini aku kasih share lok rumahku,” jawab Salmah di grup.
“Zim,
jadi COD aja nggak kayak tadi gue bilang di kelas? Berangkat bareng kita,” ujar
Hana.
“Ogah.
Kayak orang pacaran. Berangkat sendiri-sendiri aja.”
“Ayo
otw.” Lutfi memberi aba-aba agar semua penghuni grup mulai melakukan perjalanan
dari kediaman masing-masing. Sekitar pukul sebelas siang gue beranjak dari
rumah berpamitan pada Nyokap dan Bokap untuk pergi penelitian di Tulis, Batang.
“Jauh
banget, hati-hati di jalan ya!” ujar Nyokap sambil meluruskan potongan-potongan
kain perca yang akan beliau gunakan untuk bahan menjahit.
“Iya.
Salim dulu yaa..”
Gue
berangkat. Yang lain juga berangkat. Masing-masing saling ngepap di grup sudah sampai di mana saja. Atau masih berada di
mana. Seperti gue yang ngepap helm
grab hijau gue yang entah apa tujuannya. Sungguh tidak masuk di akal.
Cuaca belakangan ini cukup panas, matahari seolah memanggang apa saja yang ada di jalanan, tak terkecuali gue yang sedang mengemban misi mulia dari kampus ini, ciakh. Beruntung gue pakai jas almameter dan sarung tangan untuk melindungi tangan gue dari panas matahari beserta sinar ultramannya, sorry, ultraviolet yang berbahaya.
Perjalanan gue tempuh melalui jalur pantura, lengkap sudah
panas yang gue rasakan siang ini. Jam sebelas siang, lewat pantura, dipantati
truk-truk besar pula. Kalau bukan karena tujuan akademis mana mungkin gue
melakukan hal ekstrem semacam ini. Mending
turu ora resiko.
Ketika meninggalkan Kota Pekalongan dan mulai memasuki wilayah Batang (entah itu kota atau kabupaten gue lupa nggak baca satu persatu, ya kali gue naik motor di pantura harus berhenti buat baca doing) gue takjub dengan landmark-landmark dan tatanan perkotaannya. Misal saja tugu Kabupaten Batang yang berbentuk seperti daun (kalau salah tolong gebuk gue pakai sendok mixue), yang sebenarnya hanya biasa saja tapi karena gue termasuk orang yang jarang keluar kota tanpa ada tujuan jelas, maka ini sesuatu yang menarik bagi gue. Juga ada Tugu Entah Apa Namanya yang terletak di tengah jalan pantura yang gue lalui.
Terus
terang gue selalu punya keinginan agar bisa jalan-jalan seperti ini, keluar
kota dengan bebas entah itu untuk tujuan akademis ataupun sekadar mampir, bukan
berwisata. Dari jalan-jalan ini gue bisa belajar banyak hal, seperti yang
selalu diwanti-wanti oleh Pak Syamsul Bakhri, dosen Sosiologi di Semester Dua
kemarin. Namun, apa daya… Tuntutan kapitalisme memaksa gue untuk jadi orang
yang tidak bisa bebas jalan-jalan, ditambah lagi kondisi tubuh gue yang aneh;
suka ngantuk di jalan.
“BUSET
INI JAUH BANGET NJIR KOK GAK SAMPE-SAMPE?” gerutu gue di hati, kemudian gue
menepikan sepeda motor revo gue untuk mengecek maps.
“YAHHHH,
MASIH 20 KM LAGIII.”
Begitu
terus, kurang lebih empat kali gue menepi untuk sekadar buka maps, juga untuk
mencegah kantuk gue kumat di tengah jalan karena kali ini gue berada di jalur
pantura, akan sangat berbahaya jika mengantuk di sini.
“Ini
gimana caranya Si Salmah gak ngantuk PP dari sini ke kampus? Gue aja setengah
mati gini…,” karena kesal dengan kantuk yang merajalela, gue memutuskan mencari
SPBU terdekat, berharap di sana ada musolla sekaligus minimarket untuk gue
beristirahat.
Dan
benar. Tak jauh dari tempat di mana ketiga kalinya gue berhenti untuk mengecek
maps, gue mendapati sebuah SPBU paket lengkap. Musollanya estetik,
minimarketnya pun epik, didesain layaknya kafe, namun saying pemandangan penuh
seni ini terganggu oleh oknum pekok
yang mengabaikan tanda dilarang merokok di depan minimarket. Kebul! Padahal dengan jelas terpampang
sebuah tanda “Perhatian! Merokok silakan ke Smoking Room yang telah
disediakan”, namun mereka mengabaikannya begitu saja. Kalau gue berpikir
positif, mungkin mereka buta huruf, pfffttthhhh. Gue menghentikan sepeda motor,
parkir di depan minmarket estetik tersebut lalu menuju musolla untuk salat
zuhur.
“Istirahat
dulu ah, sambil jajan boleh kali ya,” ucap gue dalam hati seusai salat zuhur.
“Jajanin
saya sekalian, Mas, hehehe,” sambung Ibu-ibu di belakang gue yang entah kenapa
dia bisa dengar suara hati gue.
“LARIIIII.”
Usai
jajan dan istirahat sejenak selama kurang lebih sepuluh menit guna mengusir
kantuk yang masih tersisa, gue kembali melanjutkan perjalanan menuju kediaman
Salmah. Sementara gue baru mau memulai lagi, seluruh anggota kelompok yang
berkesempatan ikut penelitian sudah sampai di sana. Munir ngepap
“Gue
udah sampai.”
“Gue
baru mau jalan,” jawab gue.
“Tolol.
Dari tadi ngapain?”
“….
Dari SPBU terdekat.”
“Oh,
hehe.”
Kurang
lebih sekitar empat kilometer dari SPBU tempat gue berhenti untuk pit-stop
tadi, gue belok ke arah kiri dan mulai memasuki area pedesaan. Namun, gue
disambut dengan kebun-kebun yang isinya entah pohon apa, dan di kebun tersebut
tertera “Restricted Area”. Apakah ini merupakan Area 51 yang sering diceritakan
orang-orang di video-video konspirasi di Youtube? Wah…. Sungguh mengerikan.
Apakah gue akan bertemu Alien di desa ini? Jangan-jangan keluarga Salmah… Oke
cukup.
Gue
akhirnya sampai di lokasi setelah melalui kebun singkong yang cukup luas yang
ditunjukkan oleh google maps hasil share-loc
Munir. Ketika sampai gue langsung mengenali bagian depan rumah Salmah yang tadi
di-pap oleh Munir, beserta sepeda motor dan Salmah-salmahnya.
![]() |
Ini singkong ya telaso, siapa tahu lo ndeso. |
“Woy,
Azim sini. Ngapain lurus!” teriak tuan rumah.
“Gue
kagak lurus coy, putar balik,” jawab gue sok cool.
“Masuk,
Zim, yang lain udah nunggu.” Salmah mempersilakan gue masuk. Di dalam sudah ada
Lutfi, Ghozali, Munir, Hana, dan Yaya.
“Gila.
Kok lu udah sampe duluan, Na?” gue menunjuk ke Hana yang tadi di awal menawari
gue berangkat bareng.
“Ya
gue kan orang sini, kocak.”
Beberapa
saat kemudian Tuan Rumah menyajikan soto kudus, entah itu benar kudus atau
bukan, yang jelas dia kuning dan soto.
Semua menyantapnya, lalu membuat pedoman observasi dan mulai membagi tugas
untuk wawancara dengan petani singkong setempat.
“Azim
sama Munir dokumentasi, gue yang nanya-nanya, Yaya pegang pedoman observasi
nanti dicentang-centang, Ali sama Hana nyatet sambil boleh ikut nimbrung.” Sang
Kamerad, Lutfi membagi tugas.
“Kebunnya
yang tadi gue lewat bukan sih?” tanya gue memotong pembagian tugas Lutfi.
“Kebun
yang mana?” Salmah merespons.
“Ya,
kebun. Kebun yang kayak kebun pada umumnya. Nggak tahu gue cuma ikut share-loc Munir doang tadi.”
“Mana
ada lewat kebun singkong, kocak, itu lo salah ambil jalur,” ketus Munir sambil
salto lalu masuk ke mangkok soto.
“Bisa-bisanya nih anak. Oke, ini udah ya, nggak ada pertanyaan kan? Kita lets go!” Lutfi bangun dari duduknya dan kami semua mengikuti. Dengan ini, Penelitian Singkong Pantura resmi dimulai. Tet teret terettttt!
![]() |
Penjelasan mengenai gambar ini ada di bab berikutnya. |
Komentar
Posting Komentar