Internasionalisasi Kampus

 

            Pagi ini, Senin 4 November 2024. Cuaca di kampus terpantau cerah berawan, tidak terlalu terik dan tidak terlalu mendung. Yaa secara bulan ini sudah memasuki musim hujan… Dan seperti bias ague berangkat ke kampus mengendarai sepeda motor revo gue. Ketika memasuki gerbang kampus, gue memelankan laju sepeda motor, lalu gue bertemu sosok ini.

            Sosok ini tinggi, berkulit eksotis, berjalan sendirian di trotoar kampus menuju gedung yang ia tuju. Gue kemudian menepikan kendaraan dan menawarinya tumpangan.

            “Assalamu’alaikum. Butuh tumpangan?” Tanya gue dalam Inggris-American.

            “Ah, Azim, Waalaikumussalam. Boleh boleh, terima kasih ya,” jawab sosok itu dalam British-African yang ramah.

            “Kamu ke kelas apa saja hari ini?” tanya gue lagi, mencoba basa-basi, masih dalam bahasa inggris.

            “Oh, aku mendatangi dua kelas. Pertama Ilmu Tasawuf dan kedua Bahasa Inggris dasar,” tanggapnya.

            “Oh, Tasawuf? Apakah Pak Amat Zuhri yang mengajar?”

            “Emmm, bukan. Yang mengajar Pak Miftahul Ula.”

            “Kalau bahasa inggris apakah masih Mrs. Ryan?”

            “Iya, Mrs. Ryan.”

            Kami pun sampai di gedung FUAD, tempat perhentian sosok ini. Ia kemudian turun dari sepeda motor gue dan menjabat tangan gue seraya mengatakan terima kasih. Jabat tangannya masih sangat kuat seperti saat pertama kali gue mengajaknya berkenalan beberapa minggu sebelumnya.

            “Terima kasih tumpangannya,” ucapnya.

            No problem, Man.

            Namanya Idris. Dia mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam angkatan 2024, atau angkatan di bawah gue. Dia berasal dari Nigeria. Dia nge-kost di dekat kampus. Pertama kali gue bertemu dia adalah hari Kamis, 10 Oktober 2024 silam. Kala itu gue sedang menuju ruang FUAD 4.11 untuk memasuki kelas penulisan ilmiah popular yang diampu oleh Pak Wira. Gue berjalan menuju ruang kelas bersama dengan Raffie Khan, yang terus terang saja sejak semester satu gue mencurigai dia ini masih keturunan Gengis Khan.

            Ketika baru sampai di lantai empat gue mendapati seorang mahasiswa yang “berbeda” dengan mahasiswa lainnya. Ya, lo tahu maksud gue, terus terang aja nggak akan gue tulis fullgar karene gue takut kena UU ITE tentang SARA (gue baru belajar itu di kelas Hukum dan Etika Media Massa bersama Pak Dimas Pr).

            Gue memeriksa situasi, apakah aman untuk mengajaknya berbicara, atau perlukah gue menanyakan sedang apa dia. Sebab dia selama sepuluh menit terakhir hanya jongkok di ujung tangga lantai empat, terus terang saja akan agak menyeramkan jika ada seseorang duduk di sana sepanjang waktu.

            Hi! Trouble finding class? (Hai, kesulitan nyari kelas ya lo?)” tanya gue spontan dan sok asik.

            Oh. No, I don’t. That is my class. (Nggak kok, itu kelas gue.)” Ia menjawab sambil menunjuk ke ruang FUAD 4.10.

            Mahasiswa foreign ini kemudian berdiri. Dan boom. Gue kaget melihat posturnya yang hamper dua kali lipat ukuran tubuh gue. Sekarang gue terlihat mungil. Perawakannya tinggi besar, kalau gue ingat-ingat mukanya lumayan mirip dengan Herman Dzumafo, mantan pemain Bhayangkara FC. Ia kemudian menjabat tangan gue.

Herman Dzumafo. Ini cuma ilustrasi aja njir jangan dikira 100 persen sama.

            “Siapa namamu?” tanyanya dalam British-african.

            “Azimatus Sya’bana.”

            “Apa? Azmi?”

            “Bukan. Azim. ‘Azimatus Sya’bana,” jawab gue sambil menonjolkan huruf ‘ain di kata ‘Azim yang memang berasal dari bahasa Arab.

            “Oh. Pake ‘ain?” tanyanya dalam Arab. Dan beberapa kata seterusnya gue nggak ngerti karena dia menggunakan Arab Native. Ya gue mana sempat ngecek grammar berupa mubtada’, khobar, fiil, fail, maf’ul bih dan lain-lainnya?

            “Ah, iya, pakai huruf ain di bahasa Arab. Bener tuh.” gue mencoba mencairkan suasana, sebab gue mulai keringat dingin karena kesulitan berkomunikasi dengan dia.

            “Kamu bisa bahasa Arab?” ia kemudian bertanya, kali ini dalam British lagi.

            Just a little bit. Namamu siapa?” gue langsung mengalihkan pembicaraan agar dia tidak mengajak gue berbicara menggunakan Bahasa Arab lagi.

            “Nama saya Sanusi Idris. Panggil saja Idris.”

            “Ah, ya! Senang bertemu denganmu, Idris!”

            Idris kemudian menceritakan origin-nya; ia berasal dari Nigeria, pernah menetap di Arab Saudi, lalu mendarat di sini, di KPI UIN Gusdur. Sungguh sebuah perjalanan hidup yang unik.

            “Kamu berarti mahasiswa KPI angkatan 2024 ini ya?”

            “Iya. Baru masuk kemarin. Boleh minta nomormu?”

            “Oh, boleh.”

            Kami bertukar nomor telepon. Kemudian kembali mengobrol basa-basi, dan tentu saja, ia kembali menggunakan arab-native-nya yang sangat sulit untuk gue pahami. Ini merupakan pelajaran baru buat gue: nilai tinggi di mata kuliah bahasa Arab tidak menjamin gue bisa berbicara bahasa Arab dengan lancar, apalagi berbicara dengan seorang native seperti Idris. KAPOK!

            Usai mata kuliah penulisan ilmiah popular, gue mengumpulkan rakyat gue (buset). Masih di tempat yang sama selama satu tahun terakhir, yakni Café Baca Perpustakaan…

            “Lo tadi ngobrol apa aja, Zim?” Lutfi membuka sesi per-kepoan.

            “Iya, kayak asik gitu.” Ghozali menimpali.

            “Basa-basi doang sih, dia bilang kalo dia tuh orang Nigeria, terus pernah di Arab Saudi, dan sekarang di sini. Tapi gue kasihan deh, Li, Lut…”

            “Emang kenapa?” tiba-tiba Dayat entah dari mana muncul sambil membawa tongkat bambu lusu.

            “Ya kasihan aja, kampus kita sekarang ini kam akreditasi unggul nih, mahasiswa dari luar negeri kayak Idris bisa masuk, tapi SDM kita tuh belum siap. Lo lihat aja, gue yang nilai bahasa arab dan inggrisnya lumayan aja kesulitan ngobrol sama doi,” ungkap gue resah.

            “Bener banget, gue setuju tuh.” Ghozali membetulkan kacamatanya yang digeser oleh tongkat bambu Dayat, sungguh sangat mengganggu.

            “Tapi dia punya temen nggak? Maksudnya yang bisa diajak ngobrol pake bahasa dia?” Lutfi kembali bertanya.

            “Ada sih. Tadi sebelum masuk kelas gue lihat dia ngobrol sama orang gitu.”

            “Ya syukur deh, setidaknya ada yang bisa diajak ngobrol.” Dayat menimpali.

            Beberapa hari berikutnya. Tepatnya Jumat, 8 November. Ada satu orang lagi. Belakangan gue ketahui namanya Abdullah. Ia berperawakan tinggi agak gempal, dan dia full Arabic. Jelas gue nggak akan mengajaknya berkenalan. AKAN SANGAT SULIT BRO.

            Gue pertama kali bertemu dia di Perpustakaan. Waktu itu gue sedang bercengkerama dengan sesama anggota team Talkshow HMPS, Karin. Kami membicarakan tentang keluh kesah di sana selama jadi anggota, lalu sosok ini muncul bersama kawannya dengan pembicaraan berbahasa arab yang sangat menarik perhatian.

            “Ini pasti temennya Idris. Kayak yang pernah gue dengar mitosnya dari seseorang, eh ceritanya,” gumam gue lirih.

            Entah di luar sana ada berapa jumlah mahasiswa foreign seperti Abdullah dan Idris, yang gue tahu, SDM di UIN masih belum siap dengan keberadaan mereka. Ya, mungkin saja tingkat kesiapannya akan berbanding lurus dengan jumlah mereka. Maksud gue semakin banyak jumlah mereka, sepertinya standar berbahasa asing di kampus akan naik.

            Di balik semua keresahan itu gue bersyukur, satu di antara banyak wish-list sepanjang mas ague telah terpenuhi: berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dengan orang luar negeri. Jiaakkhhhh!!! Jadi, udah berani ikut tes TOEFL? Huft.

           

           

Komentar

Postingan Populer