Legenda Hidup: Pak Basir

     Angin sepoi-sepoi menghiasi Jumat siang yang syahdu. Ditemani sekotak nasi yang gue bawa dari rumah dan juga seplastik gorengan sosis beserta nuget yang gue beli di kantin. Tidak ketinggalan pula, segelas Es Teajus varian gula batu, favorit gue. Zali duduk di seberang kiri gue, saat ini kami sedang berteduh di bawah pohon kersen di area parkir Gedung perkuliahan terpadu. Biasanya, Zali akan bercerita panjang lebar, entah itu tentang pengalaman pribadinya atau sekadar berbagi pemikirannya yang terkadang radikal. Dan biasanya pula gue cuma oka oke hoah hooh doang; gue tahu gue bego dalam menanggapi orang yang sedang berbicara tapi gue tahu bagaimana caranya menghargai yaitu dengan tidak menyela pembicaraan. 
      Zali diam. Sesekali ia mengecek ponselnya, memastikan bahwa kelas Filsafat Umum belum dimulai. Gue juga diam, tentu saja dengan mulut penuh nasi dan kawan-kawannya. Sampai gue selesai makan siang, kami masih tidak membicarakan apa pun. Kami sama-sama sedang menikmati cuaca yang sedang bersahabat pada detik ini: tidak terlalu panas dan berangin sepoi-sepoi. Sesekali gue berandai-andai ada orang lewat kemudian mampir dan bertanya, “Ini Mas Azim ya? Mas Azim yang punya band itu?” Lalu gue jawab, “Maaf, band-nya sudah bubar.” 
     Gue lalu menyalakan musik. Mencoba mengusir keheningan. Gue memutar lagu “Every Grain Of Sand” karya Bob Dylan. Sebuah lagu jadul yang gue tahu dari serial Moon Knight-nya Marvel Cinematic Universe. Kini suasana yang memang sudah syahdu kian syahdu dengan lantunan harmonika Bob Dylan yang sangat sopan di telinga. Ah, nikmatnya.
      Alunan melodi harmonika Bob Dylan berakhir. Nasi yang tadi sedang gue makan juga sudah habis. Gue cuci tangan. Lalu inilah yang terjadi, sesosok bapak-bapak random tiba-tiba menghampiri gue dan Zali. Gue sering melihat bapak-bapak ini di kantin, tapi beliau bukan pedaagang kantin, melainkan cleaning service di Gedung perkuliahan terpadu. Beliau adalah Pak Basir, konon beliau sudah bekerja di kampus sebagai cleaning service bahkan sebelum kampus berdiri. Loh? Yang dibersihin apa dong?
      Pak Basir duduk, beliau hanya diam… Gue diam. Zali diam. Pak Basir juga diam. Sekarang kami bertiga seperti patung yang terduduk di bawah pohon kersen yang tinggi dan teduh ini. Lalu… Pembuka percakapan yang tidak terduga itu muncul. 
     "Pilpres kali ini rame, ya?” Pak Basir mencoba mengusir keheningan dengan memulai percakapan kepada Zali. 
      “Iya, Pak,” jawab Zali. Percakapan membahas isu pilpres dimulai. Pak Basir memulainya dengan data bahwa salah satu bakal calon lebih unggul ketimbang yang lainnya, diikuti bakal calon yang ‘masih bisa unggul’, hingga ke bakal calon yang benar-benar bakalan ‘rungkad’ dalam pilpres kali ini. Gue yang nggak terlalu paham dunia politik hanya mengangguk-ngangguk saja sebagai formalitas. Zali yang idealis dan paham politik terlihat jelas bisa mengimbangi percakapan tersebut. Sekarang gue seperti sedang menonton podcast. 
      “Si A ini dengan wakil B kayaknya bakalan unggul, soalnya begini…,” ujar Pak Basir. 
      “Iya, sih, Pak. Soalnya memang begitu,” timpal Zali. Iya, percakapannya terdengar aneh karena gue nggak ngerti, jadi ya beginilah gue menuliskannya.      “Tapi kalo Si E dan F susah kayaknya, Mas. Si C dan D masih mending…” 
      “Track recordnya ga baik baik banget soalnya, Pak.”
      “Iya…”
       Gue sesekali mengalihkan perhatian gue ke sekeliling. Mulai dari satpam yang sedang melayani dua mahasiswi yang kehilangan kunci sepeda motornya, yang mana salah satu dari dua mahasiswi ini ternyata teman MI gue, Si Rohmah. Gue sontak menyapanya.
      “Hei, Rohmah! Ngapain lo?” sapa gue. 
      “Eh, lo di sini, Zim. Ini nih kunci motor temen gue ilang,” jawabnya.
      “Ealah, lha naruh di mana tadi?” tanggap gue sok ikut campur menyelesaikan masalah.
“Kayaknya jatuh di sekitaran sini deh,” jawab teman Rohmah. “Sebentar ya, Mbak, saya coba kontek satpam lain.” Sang Satpam yang bertubuh gempal tersebut mencoba menenangkan mereka, juga mencarikan solusi. Gue kembali mengalihkan pandangan. Namun, tidak ada pemandangan yang menarik. Gue pun menyerah, gue terpaksa mendengarkan obrolan Zali dan Pak Basir tentang politik.
 “Pemandangan dari tempat ini selalu sama ya, membosankan,” batin gue. 
      Puji Syukur ke hadirat Allah. Percakapan politik tersebut akhirnya berakhir. Gue menghela napas lega. Akhirnya gue bisa ikut nimbrung hal lain. Karena gue memang suka nimbrung ngobrol sama orang yang menurut gue asyik untuk diajak ngobrol, dan Pak Basir ini di mata gue adalah sosok ideal untuk diajak mengobrol tentang kehidupan. Namun dari tadi yang beliau obrolkan adalah politik, gue nggak paham politik, jadinya gue diam saja. Gue memulai percakapan dengan Pak Basir dengan menanyakan ini. 
 “Bapak kerja di sini sudah berapa lama, Pak?” “Saya di sini sudah empat tahun, Mas…,” jawab Beliau..., “sejak gedung pertama, FEBI dibangun.” Pak Basir kemudian melanjutkan ceritanya. Beliau menceritakan keluh kesah bekerja sebagai cleaning service. Sebagian besar keluhannya adalah konstruksi gedung yang tidak memungkinkan air mengalir, dan kondisi lantai satu yang penuh dengan bekas jejak sepatu yang kotor ketika musim hujan. Gue sama sekali tidak mendengar beliau mengeluhkan mahasiswa yang ‘mungkin’ saja kurang ajar dalam urusan kebersihan. Kita tahu sendiri, cleaning service kadang dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Ya, walaupun bisa saja perlakuan tidak sopan terhadap beliau mungkin ada, namun beliau tidak menceritakannya, tapi justru di situlah gue salut sama beliau: nggak mau ghibah. 
      “Di sini tuh yang ribet kalo lagi musim hujan, Mas…” 
 “Kenapa tuh, Pak?” Zali ikut menanggapi.
"Kalau hujan kan tanah jadi basah, Mas, nah sepatunya mahasiswa tuh pada kotor gitu,” tambah beliau.
 “Oh iya, paham, Pak. Pada becek gitu ya?” untuk kali ini, gue bisa langsung ngeh. Ini adalah persoalan sepatu yang alasnya basah dan kotor, lalu memasuki ruangan tanpa keset. That’s it!
 “Iya, yang parah tuh di lantai satu.” Pak Basir kembali melanjutkan. 
 “Oh iyaaa, soalnya kan lantai satu adalah lantai pertama yang diinjak, ya, Pak?” lagi-lagi gue bisa memahami inti percakapan ini. WOW! 
 “Terus yang repot lagi tuh saluran air di toilet, Mas. Toilet itu bangunannya nggak dibikin sedikit miring biar air bisa ngalir, jadinya kami repot harus narik-narik airnya.” 
 Yang satu ini gue lumayan nggak paham. Serius. Air yang ditarik? Maksudnya bagaimana? Dalam budaya manakah seorang manusia bisa menarik air yang notabene adalah benda cair? Apakah Pak Basir ternyata jelmaan Aang? Atau beliau ini adalah kakek buyutnya BoboiBoy? Entahlah.
 “Maksudnya gini, Mas. Bangunan kan nggak miring. Otomatis air nggak turun dong? Air kan ngalir ke tempat yang lebih rendah?” 
 “Iya… Ohhh iya! Gue ngerti,” teriak gue dalam hati. “Makanya harus ditarik airnya.” Gue nggak paham lagi. Satt! 
      Suasana kian ramai. Mahasiswa-mahasiswi mulai berdatangan untuk memasuki kelas. Begitupun gue dan Zali yang sudah harus masuk ke kelas Filsafat yang diajar oleh Bu Lilik Riandita, M.Phil., salah satu dosen favorit gue selain Dosen PPKN dan Bahasa Inggris Dasar. Hihihi…
      Kami berpamitan kepada Pak Basir. Secuil kisah hidupnya sudah menginspirasi gue dan Zali dalam rangka menghadapi kerasnya hidup, baik di masa kini maupun di masa nanti. Angin yang tadi berhembus ringan kini perlahan mulai tak terasa. Udara kembali panas. Gue bergegas masuk ke kelas, agar tidak terpanggang oleh matahari yang belakangan sedang ganas. Wkwkwk, keringat gue jadi bau kampas.

Komentar

Postingan Populer