About Me (Kenalan Lagi Yuk!)


      Jumat, 29 Juli 2022 gue mendapat sebuah tantangan unik, yaitu tantangan 30 hari menulis. Gue pun merasa tertantang karenanya. Selain karena sekarang gue sudah hampir turun jabatan, juga untuk mengusir malas yang hinggap sejak liburan. Haha. Hari pertama dari tantangan 30 hari menulis adalah menulis tentang diri gue, so, ayo kita kenalan lagi. Buat yang baru mampir ke sini juga, mari kita nikmati bersama sajian absurd ini.

Di segmen-segmen ini dan seterusnya, insya Allah gue akan mulai jujur. Gue nggak akan memakai nama samaran seperti yang sudah-sudah. Dan mereka yang sempat disamarkan…. Tunggu saja. Wkwk.

Nama gue Azimatus Sya’bana, oleh teman-teman biasa dipanggil “Bana”. Lahir tanggal 27 September 2005 (bentar lagi gue ultah, kali aja kalian mau ngasih kado, wkwk) dari pasangan suami istri Khasani dan Saimah. Kata bokap dan nyokap gue terlahir dengan bobot di atas rata-rata manusia pada umumnya, 2 liter, eh… 

Ya, pokoknya gitu deh kata mereka. Gue kurang tahu spesifiknya bagaimana, karena gue tidak melihat bagaimana proses gue dilahirkan ke dunia ini. Antiklimaks. Telinga gue dulu terlipat, bokap panik, saking paniknya, bokap sampai menjilati telinga gue supaya normal. Gue nggak paham kenapa harus ada kalimat “saking paniknya”, tapi itulah yang diceritakan nyokap dulu waktu gue masih kecil. Dan setelah itu telinga gue benar-benar menjadi normal, ajaib.

Sekitar tahun 2008/2009-an nyokap pergi bekerja menjadi TKI ke Arab Saudi, tepatnya di kota Jeddah. Gue diasuh oleh bokap semenjak itu, dan tinggal bersama abang gue, Hasan Abdillah. 

Kehidupan sekolah

Tahun 2011 bokap mendaftarkan gue ke sebuah madrasah di des ague, yaitu MIS Kertijayan, itulah pelabuhan baru gue dalam menuntut ilmu setelah mengenyam pendidikan dasar di taman kanak-kanak selama kurang lebih dua tahun. Masa-masa awal gue di MI gitu-gitu doang, gue bahkan termasuk anak yang malas menulis, Bu Suripah, wali kelas gue di kelas 2 putra sampai kewalahan menangani gue. Dan selain malas, gue juga termasuk murid yang B Aja. Tidak terlalu pintar, tidak terlalu bodoh, di tengah-tengah aja… widihhh, moderat .

Gue juga terkenal sering melakukan hal-hal aneh semasa dua tahun pertama tersebut, mulai dari menumpahkan isi pulpen lalu meminumnya (jangan ditiru), menjadi bendera saat upacara 17 Agustus, dan lain-lain, gue agak susah mengingat.

Anak terpintar di MI waktu itu bernama Deva Ahmad Attila, anak pribumi tetangga sekolah, berangkat cukup jalan kaki. Dia langganan ranking satu sejak kelas satu. Sedangkan gue… Ah, skip.

Di madrasah diniyah (sekolah ngaji/TPQ) bahkan gue tergolong anak yang susah berkembang. Mengaji jilid 1 halaman 12 saja gue sampai sebulan lebih tidak selesai. Gue mampet. Sementara teman-teman gue di MI sudah menginjak jilid 2, jilid 3, bahkan ada yang sudah menginjak jilid ghorib (kelas akhir TPQ). Gue tertinggal jauh.

Barulah tahun berikutnya, pertengahan 2012, saat nyokap selesai menjadi TKI dan pulang ke tanah air. Semuanya berubah. Gue yang tadinya hanya belajar setiap malam bersama bokap, kali ini digembleng habis-habisan oleh nyokap. Setiap sebelum berangkat mengaji TPQ, gue harus membaca terlebih dahulu apa yang akan diujikan oleh ustad di TPQ. Semua itu gue lakukan dengan bimbingan dan gemblengan penuh dari nyokap. Alhamdulillah, saat kenaikan kelas 3, gue mendapat ranking 1, di TPQ, gue juga dengan mudah naik ke jilid-jilid selanjutnya. Wow! Alif Hamzah Ya!

Masa-masa itu pun berakhir, gue lulus dari MIS Kertijayan tahun 2017 dengan status ranking 4 paralel satu sekolah, tentu saja ranking 1, 2, dan 3-nya dipegang oleh anak-anak kelas putri. Siapa mereka? Pada bab-bab selanjutnya akan gue ceritakan. Kemudian lulus dari TPQ An-Nur pada tahun yang sama, yaitu 2017, bokap dan nyokap bangga. Ya, walaupun gue merasa seharusnya gue bisa lulus TPQ lebih cepat, kalau saja otak gue dulu tidak mampet. Tapi, mau bagaimana lagi? Inilah takdir. Gue melanujutkan madrasah diniyah amtsilati di madin annur 2 setelah itu, itu tidak terlalu berat, namun lulus dari MI bukan hal yang mudah bagi gue. Gue kehilangan teman-teman gue. Mulai dari Deva yang menjadi saingan sejak kelas 3 MI, lalu si kecil Danil yang cerewet, Dany yang selalu gue bully (di bab-bab sebelumnya dia gue ceritakan sebagai Baqi), Fani gendut yang cemen, dan masih banyak lagi. Meninggalkan MI yang sudah menjadi sahabat selama 6 tahun sangatlah berat, gue tidak bisa melupakan guru-guru gue. Pak Lutfi dengan ikan asinnya, Bu Lusi dengan kegigihannya mengajar kami, Bu Ghoyah dengan ketegasannya, Pak Tsani dengan leluconnya, Pak Nur Hadi dengan keunikan dan ke-autentikan bahasanya, serta masih banyak lagi guru-guru MI yang membekas di ingatan gue. Boom!

Tahun 2017 mendaftar di MTsS Simbangkulon. Gue awalnya tidak suka dimasukkan di madrasah ini, karena di madrasah tersebut laki-laki dan perempuan dipisah. “GUE NGGAK KUAT!” kata gue dulu. Selain beberapa alasan di atas, ada satu juga alasan yang membuat gue enggan bersekolah di sini, tetapi masih belum bisa gue ceritakan sekarang. Masih terlalu dini.

Masa taaruf siswa selama tiga hari membuat gue sedikit memahami sistem persekolahan di MTs ini. Dan mengapa putra putri dipisah, gue juga akhirnya tahu. Akhirnya… dengan agak terpaksa gue menjalani hari-hari gue di MTs. Mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru, teman-teman baru, setidaknya ada beberapa teman gue dari MI yang juga mendaftar di sini, yaitu Irsyad, Fandy, Aril, dan Farizi. Gue agak tenang sekarang.

Di MTs gue mendapat saingan baru, yaitu Alfa Fajar Muhammad, pentolan asal MI Simbangkulon alias anak pribumi, lalu gue juga kenal dengan yang namanya Arda Fillah, Hamdan Aldiyansyah, Fahrul Rizal, Azmi Sirojul, Asro Nabil, dan masih banyak lagi. Adaptasi gue berhasil.

Tiga tahun di MTs benar-benar mengubah gue, sekarang ilmu agama gue diperdalam, gue sekarang tahu apa itu nahwu dan sharaf, apa itu imrithy, ta’lim muta’alim, dll. Di sini ilmu agama sangat ngetop.

Tahun 2020, saat ujian madrasah tiba, Covid-19 masuk ke Indonesia, melumpuhkan segala aktifitas di bumi pertiwi, tak terkecuali dunia pendidikan. Baru saja gue sampai sekolah, bersiap untuk menghadapi ujian, sekolah sepi, ternyata diliburkan. Damn! Itu adalah tahun-tahun terberat dalam kehidupan kita semua. Hingga… seluruh ujian tersebut dilaksanakan secara online, dan gue se-angkatan berhasil menyelesaikannya. Lulus!

Pertengahan 2020, gue melanjutkan ke MAS Simbangkulon, cuma maju lima langkah cuy! Wkwk! Tidak banyak adaptasi yang gue lakukan ketika masa taaruf siswa dulu, karena gue sudah mengenal lingkungan Simbangkulon. Hanya beberapa hal rumit yang mulai gue pahami saja yang menambah seru petualangan gue kali ini. Mungkin itu yang disebut dengan ndolor.

2 tahun berlalu, dan sampailah pada titik sekarang ini, kelas 12, satu tahun lagi gue akan menyelesaikan studi gue di sini. Aamiin. Di MA, gue tidak mempunyai saingan, gue menganggap semuanya setara, tidak perlu ada penaklukkan seperti yang sudah-sudah, ya, ini adalah bagian dari ndolor. Di MA ini gue lebih akrab dengan teman-teman MTs yang dulu tidak terlalu akrab, seperti Asro Nabil, Nayif, Sandi Kurniawan, Arsya Launa, dan lainnya. Juga ada anak yang gue anggap “sejiwa” dengan gue. Shidqul Wafa namanya, mengapa gue sebut “sejiwa”? Karena dia juga menyukai musik-musik indie folk seperti gue. Boom!


Kehidupan Berorganisasi

Gue mencoba peruntungan gue pada tahun 2018 awal dengan mengikuti IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) berkat saran dari guru mengaji gue di Madin An-Nur 2, Ustadzah Nia, yang pada saat itu juga menjabat sebagai ketua PAC IPPNU Kecamatan Buaran. Okelah, gue coba…

Ketua IPNU Kertijayan saat itu adalah Mas Haris, sedangkan ketua IPPNU adalah Mbak Ma’rifah, gue saat itu bergabung IPNU dengan komplotan satu kelas gue di Madin, yaitu Haekal (sahabat gue yang selama ini gue ceritakan sebagai Miftah), Ainun, Irsyad, dan Ishaq. Kegiatan yang kami ikuti pada masa-masa awal tersebut hanyalah ngaji rutin fathul qarib setiap malam rabu, bersama Kiai Munir Mutawali, pembimbing IPNU IPPNU Kertijayan.

Akhir 2018, tepatnya bulan Desember tanggal 22, Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) IPNU IPPNU digelar di desa Pangkah. Itu adalah acara pengkaderan di IPNU IPPNU yang paling dasar, hamper mirip KBO. Ada materi, dan juga menginap. Gue, bersama komplotan gue tentunya, mengikuti acara tersebut. Dan sejak saat itu kami berlima resmi menjadi anggota IPNU. Duar!

Tahun demi tahun berganti, gue semakin mapan di IPNU. Namun, kemapanan tersebut tidak diimbangi oleh kemapanan komplotan gue. Satu persatu mereka pergi meninggalkan gue, dimulai dari Ainun yang lulus dari MTs melanjutkan di MA Simbang, namun nyantri di Ma’had Takhasus, lalu Ishaq yang lulus dari MTs IN Banyurip melanjutkan nyantri di Kiai Taufiq Wonopringgo, disusul Irsyad tahun 2020 (bersama gue lulus MTs) yang juga nyantri di Kiai Taufiq Wonopringgo. Tersisa gue dan Haekal saja. Itu pun hanya berlangsung satu tahun, setelah Irsyad pergi, Haekal lulus dari SMP Salafiyah Pekalongan dan melanjutkan nyantri di Ma’had Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta. Tinggallah gue seorang sampai detik ini. 

Itulah sekilas riwayat hidup gue… Ada banyak cerita yang sebenarnya sangat kompleks untuk gue ceritakan, namun sengaja gue ringkas, ya… biar tetap ada ide untuk menulis, wkwk! Sampai jumpa di tulisan gue selanjutnya. Berbiasalah! Berbahagialah! Salam Absurd!

Komentar

Postingan Populer